Soegijono

ini mungkin berguna

Studi Perbandingan Kehilangan Hara Melalui Aliran Air Sungai Berdasar Perbedaan Pola Penggunaan Lahan (Studi Kasus di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah)

Posted by soegijono pada 11

Pembangunan sumberdaya alam utamanya sumberdaya hutan dan lahan guna menunjang pembangunan Indonesia di masa mendatang telah menjadi tuntutan dalam pemenuhan kebutuhan hidup setiap komponen masyarakat bangsa Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang pesat, degradasi lahan, kerusakan lingkungan dan bencana alam yang semakin meningkat menambah deretan panjang permasalahan kehidupan yang semakin kompleks.

Menurut NAP (2000) dalam Stringer (2008) laju pertumbuhan penduduk yang pesat memberikan kontribusi terhadap degradasi lahan. Kepadatan penduduk yang tinggi akan meningkatkan tekanan terhadap sumberdaya lahan sehingga terjadi pemanfaatan sumberdaya lahan dan lingkungan secara intensif melebihi daya dukungnya. Meningkatnya kerusakan sumberdaya hutan secara umum disebabkan oleh aktivitas manusia, urbanisasi, pembalakan, pembangunan pertanian dan aktivitas pembangunan lainnya (Wade et al., 2003).

Perubahan struktur hutan menjadi penggunaan lain menyebabkan perubahan fungsi dalam ekosistem hutan tersebut. Fungsi hutan yang tak kalah pentingnya adalah kemampuan hutan dalam hal penyimpanan unsur hara. Lepasnya unsur hara dari wilayah tangkapan air (catchment area) ke sungai merupakan lepasnya unsur hara tersebut dari ekosistem setempat (Wihandana, 1999). Beranjak dari fenomena tersebut di atas, maka diperlukan sebuah upaya secara integral dan komprehensif dalam mengelola kemanfaatan sumberdaya tersebut. Upaya ini dapat diwujudkan dalam suatu sistem pengelolaan yang tidak mengabaikan kelestarian ekosistem. Tantangan yang dihadapi adalah menemukan model pengelolaan lahan yang tepat agar penggunaan lahan pada kawasan tersebut dapat berfungsi optimal sehingga pembangunan lokal bisa compatible dengan pengelolaan hutan.

Permasalahan

Faktor degradasi lahan umumnya terbagi 2 jenis yaitu akibat faktor alami dan akibat faktor campur tangan manusia. Menurut Barrow (1991) faktor alami penyebab degradasi lahan antara lain: areal berlereng curam, tanah mudah rusak, intensitas hujan, dan lain-lain. Faktor degradasi lahan akibat campur tangan manusia baik langsung maupun tidak langsung lebih mendominasi dibandingkan faktor alami, antara lain: perubahan populasi, marjinalisasi penduduk, kemiskinan penduduk, masalah kepemilikan lahan, ketidakstabilan politik dan kesalahan pengelolaan, kondisi sosial dan ekonomi, masalah kesehatan, dan pengembangan pertanian yang tidak tepat. Berbagai pemecahan masalah degradasi lahan telah banyak dikembangkan baik melalui pengembangan metodologi yang bersifat kuantitatif maupun kualitatif, melalui pengukuran maupun penyuluhan kepada masyarakat, maupun melalui pelbagai rekayasa teknologi. Namun demikian, sampai saat ini belum menunjukkan hasil yang memuaskan, bahkan informasi degradasi lahan masih terdengar di mana-mana.

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya kehilangan hara dari dua sub DAS dengan pola penggunaan lahan yang berbeda. Sub DAS Rahtawu dengan penutupan lahan berupa hutan Pinus (Pinus merkusii Jungh. et de Vriese) berumur 32 tahun yang ditanam secara monokultur. Sub DAS Gajah Mungkur dengan vegetasi Pinus berumur 9 tahun dengan model pertanaman campur dan teknik konservasi tanah di dalamnya. Pola pertanaman campur dengan segala aktivitas yang ada di dalamnya akan berdampak pada tata air kawasan, yaitu kemampuan kawasan untuk meresapkan air hujan, pola aliran permukaan, erosi dan neraca hara kawasan tersebut.

Memerhatikan fenomena tersebut di atas, maka perlu adanya informasi mengenai besarnya kehilangan hara kedua sub DAS. Dengan demikian perlu adanya penelitian tentang “Studi Perbandingan Kehilangan Hara Melalui Aliran Air Sungai Berdasar Perbedaan Pola Penggunaan Lahan (Studi Kasus di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah).

Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui besarnya penurunan produktivitas lahan di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur dengan mempelajari faktor-faktor yang memengaruhinya:

  1. Mengetahui besarnya debit aliran rata-rata harian dan volume aliran Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur
  2. Membandingkan besarnya kehilangan hara (N, P, K, Ca, Mg, C, dan bahan organik) per hektar di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur
  3. Memberikan rekomendasi pola penggunaan lahan yang sesuai agar tidak terjadi penurunan produktivitas lahan di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur.

Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian secara administratif pemerintahan terletak di Desa Tombo, Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Penelitian ini dilakukan di dua sub DAS dengan vegetasi dominan adalah Pinus yang termasuk dalam kawasan hutan yang dikelola oleh Perum Perhutani di Wilayah RPH Jati, BKPH Baturetno, KPH Surakarta. Secara astronomis lokasi ini terletak antara 111003’30’’-111004’55’’Bujur Timur dan 08001’20’’-08002’05’’Lintang Selatan. Topografi daerah ini berupa pegunungan dengan ketinggian tempat berkisar antara 580-999 m dpl dengan kemiringan lereng berombak sampai sangat terjal (Suryatmojo, 2007).

Alat Penelitian

  1. Automatic Rainfall Recorder (ARR) tipe HOBO Onset
  2. Bangunan Stasiun Pengamat Arus Sungai (SPAS)
  3. Current meter digital
  4. Automatic Water Level Recorder dengan perekam data tipe ELPRO Hot Box dan AKIM
  5. Botol air minum 600 ml dan suspended sampler
  6. Ring sample

Analisis Data

Analisis Tanah

Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Tanah Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM. Analisis tanah ini meliputi: pH (H2O), N, P, K, Ca, Mg (total), dan C-organik.

Analisis Air

Analisis air dilakukan di Laboratorium Kualitas Air Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UGM. Analisis air ini meliputi: pH (H2O), N, P, K, Ca, Mg (total), dan C-organik.

Analisis Statistik

Analisis statistik yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji korelasi dan uji beda dua rata-rata (independent t-test). Uji korelasi digunakan untuk mengetahui parameter karakteristik hujan yang mempunyai hubungan paling erat terhadap debit aliran. Sedangkan uji beda dua rata-rata digunakan untuk mengetahui apakah pada intensitas hujan maksimum 30 menit yang sama terdapat perbedaan yang nyata antara kehilangan hara di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur.

Hasil dan Pembahasana

Karakteristik Biogeofisik Lokasi Penelitian

1. Kondisi Iklim

Berdasarkan klasifikasi iklim Schmidt dan Ferguson (1951) dan mengacu data curah hujan dari stasiun hujan Baturetno tahun 1993-2003, maka lokasi penelitian termasuk wilayah bertipe iklim D dengan nilai Q = 0,873. Hal ini mengindikasikan bahwa Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur termasuk daerah beriklim sedang dengan curah hujan berkisar antara 1.050 mm/th sampai 2.723 mm/th (Suryatmojo, 2007).

2. Tanah

Sifat fisik tanah di lokasi penelitian adalah tektur geluh lempungan dan struktur tanah remah dengan konsistensi gembur hingga agak teguh (Anonim, 2001).

Tabel 1. Kandungan Hara Tanah di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur

No Jenis Hara Sub DAS Rahtawu (ton/ha) Sub DAS Gajah Mungkur (ton/ha)
0-15 cm 15-30 cm 0-15 cm 15-30 cm
1. N total 3,00 2,93 1,95 1,94
2. P total 1,47 1,42 1,20 1,46
3. K total 0,81 1,17 0,90 2,27
4. Ca total 1,81 1,86 1,65 1,62
5. Mg total 0,60 0,64 0,90 0,97
6. C-Organik 17,61 17,33 24,72 27,08
7. BO 30,36 29,88 42,63 46,69

Sumber: Data Primer Lapangan, 2008

3. Morfometri Sub DAS

Tabel 2. Morfometri Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur

Parameter Morfometri Sub DAS Rahtawu Sub DAS Gajah Mungkur
Luas sub DAS (km2)

Panjang Sungai Utama (km)

Nisbah Sirkularitas

Kemiringan sub DAS (%)

Kerapatan Aliran (per km)

0,93

1,38

0,58

55,0

4,48

0,53

0,90

0,71

37,0

3,72

Sumber: Suryatmojo, 2007

4. Vegetasi dan Penggunaan Lahan

Tabel 3. Vegetasi dan Penggunaan Lahan di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur

Parameter Lahan Sub DAS Rahtawu Sub DAS Gajah Mungkur
Luas (ha)

Pola penggunaan lahan

Tanaman pokok

Tahun tanam

Umur tanaman (tahun)

Jarak tanam (m)

Tanaman campur

Kerapatan tegakan (pohon/ha)

Penutupan tajuk (%)

Kerapatan tumbuhan bawah (%)

Tebal seresah (cm)

Biomasa seresah (ton/ha)

Teknik konservasi tanah

93

monokultur

Pinus merkusii

1976

32

4 x 6

415

45

80

0,9

7,24

53

Pertanaman campur

Pinus merkusii

1999

9

Pinus (3 x 2), Puspa (3 x 10), Kopi (3 x 4), Lada (3 x 4) meter

Puspa (Schima walichii Korth), Kopi (Robusta sp dan Arabica sp), Lada (Piper nigrum Linn)

800

25

60

0,7

6,53

Teras gulud

Sumber: Data Primer Pengamatan Lapangan, 2008

Karakteristik Hujan, Debit Aliran, dan Kehilangan Hara

1. Karakteristik Hujan

Analisis data hujan yang diteliti meliputi tebal hujan, lama hujan, intensitas hujan dan intensitas hujan maksimum 30 menit.

Tabel 4.  Korelasi antara Karakteristik Hujan dengan Debit Rata-rata Harian Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur

Hubungan antara Karakteristik Hujan dengan Debit Harian Koefisien Korelasi (R)
Sub DAS Rahtawu Sub DAS Gajah Mungkur
Tebal hujan dengan debit harian 0,725** 0,821**
Lama hujan dengan debit harian 0,118 0,158
Imax30’ dengan debit harian 0,744** 0,830**

Keterangan :** = Signifikan pada taraf uji 1% (α = 0,01)

Tabel 4. memperlihatkan bahwa Imax30’ mempunyai korelasi yang paling erat terhadap debit aliran yang terjadi baik di Sub DAS Rahtawu maupun Gajah Mungkur. Hal ini dimungkinkan karena intensitas hujan yang sangat tinggi selama 30 menit mempunyai energi kinetik yang besar sehingga apabila jatuh ke permukaan tanah akan merusak agregat tanah. Hujan yang jatuh akan segera mengisi pori-pori tanah melalui proses infiltrasi yang dalam proses selanjutnya sebagian menjadi aliran bawah permukaan dan sebagian akan mengisi aliran air tanah. Apabila kapasitas infiltrasi terlampaui maka hujan yang jatuh akan menjadi aliran permukaan. Oleh karena itu, dalam analisis selanjutnya Imax30’ digunakan sebagai faktor pembanding terhadap kehilangan hara di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur

2. Debit Aliran

Debit aliran seringkali menjadi faktor pembatas dalam kaitannya dengan kesehatan DAS. Analisis debit aliran yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya aliran air yang keluar dari Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur akibat kejadian hujan. Oleh karena debit aliran memengaruhi besarnya unsur hara yang keluar dari kedua sub DAS, maka hasil analisis debit aliran selanjutnya digunakan untuk menghitung besarnya kehilangan hara yang keluar melalui aliran air sungai di kedua sub DAS tersebut.

Gambar 1. Discharge Rating Curve Sub DAS Rahtawu dan Sub DAS Gajah Mungkur

Gambar 1 memperlihatkan bahwa bentuk kurva aliran yang dihasilkan oleh Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur adalah kurva logaritmik. Kurva lengkung aliran yang dihasilkan oleh kedua sub DAS merupakan hubungan antara tinggi muka air dengan debit aliran pada masing-masing sub DAS. Kurva lengkung aliran Sub DAS Rahtawu menghasilkan persamaan lengkung aliran yang berbeda dengan Sub DAS Gajah Mungkur. Hal ini dikarenakan persamaan lengkung aliran yang dihasilkan oleh kedua sub DAS dipengaruhi oleh bentuk penampang alur sungai atau bentuk penampang bangunan pengukur debitnya. Oleh karena itu, lengkung aliran yang dihasilkan pada penelitian ini hanya berlaku pada masing-masing sub DAS. Melalui persamaan lengkung aliran tersebut dapat diketahui besarnya debit rata-rata harian dan volume aliran yang dihasilkan oleh kedua sub DAS.

Tabel 5. Debit Rata-rata Harian dan Volume Aliran di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur Selama Periode Hujan Februari 2008 – Januari 2009

Karakteristik Aliran Sub DAS Rahtawu Sub DAS Gajah Mungkur
Debit rata-rata harian (l/dt) 75,68 40,95
Volume aliran (m3) 1.344.383,30 800.322,27

Tabel 5. menunjukkan bahwa Sub DAS Rahtawu menghasilkan karakteristik aliran meliputi debit rata-rata harian dan total volume aliran lebih besar dibanding Sub DAS Gajah Mungkur. Hal ini dikarenakan oleh perbedaan kondisi biogeofisik kedua sub DAS terutama luas, tropografi, dan komposisi vegetasi dan pola penggunaan lahan. Sub DAS Rahtawu mempunyai kelerengan lebih tinggi dibanding Sub DAS Gajah Mungkur sehingga apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan laju aliran permukaan di Sub DAS Rahtawu lebih tinggi dibanding Sub DAS Gajah Mungkur. Kondisi ini didukung luas Sub DAS Rahtawu yang lebih besar dibanding Sub DAS Gajah Mungkur sehingga debit aliran rata-rata harian dan volume aliran yang dihasilkan Sub DAS Rahtawu lebih besar dibanding Sub DAS Gajah Mungkur.

Selain kedua faktor di atas, kondisi vegetasi dan pola penggunaan lahan berpengaruh terhadap proses infiltrasi, intersepsi, evapotranspirasi, dan laju aliran permukaan yang pada akhirnya berdampak pada debit aliran dan volume aliran yang dihasilkan. Teknik konservasi tanah dan pola pertanaman campur yang diterapkan di Sub DAS Gajah Mungkur sebagai upaya optimalisasi penggunaan lahan menyebabkan struktur vegetasi lebih heterogen, sehingga memberikan pengaruh yang baik terhadap tata air kawasan. Sedangkan Sub DAS Rahtawu didominasi oleh tanaman sejenis dengan struktur tajuk tunggal. Hal ini mengakibatkan laju aliran permukaan yang terjadi menjadi tinggi pada saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang berakibat pada besarnya debit aliran dan volume aliran yang dihasilkan.

3. Kehilangan Hara

Analisis debit hara yang dilakukan dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya unsur hara (N, P, K, Ca, Mg, C, dan BO) yang keluar melalui aliran air sungai di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur. Dengan demikian dapat diketahui besarnya kehilangan hara di kedua sub DAS tersebut.

Tabel 6. Persamaan Lengkung Hara, Debit Hara Rata-rata Harian, dan Kehilangan Hara di Sub DAS Rahtawu selama Periode Hujan Februari 2008 – Januari 2009

Unsur Hara Persamaan

Aliran Hara

Debit Hara

(g/dt)

Kehilangan Hara (kg/ha)
Nitrogen (N) QN = 0,0004 (Q) 0,9359 0,026 5,679
Fosfor (P) QP = 0,0004 (Q) 0,8957 0,021 4,586
Kalium (K) QK = 0,0005 (Q) 1,1664 0,122 26,337
Kalsium (Ca) QCa = 0,0156 (Q) 0,9813 1,324 284,235
Magnesium (Mg) QMg = 0,0071 (Q) 1,1114 1,270 274,042
Karbon (C) QC = 0,0980 (Q) 1,1894 27,446 5.926,931
Bahan Organik (BO) QBO = 0,1690 (Q) 1,1892 47,331 10.220,931

Persamaan aliran hara pada Tabel 6 menggambarkan bahwa bentuk kurva aliran hara yang dihasilkan oleh Sub DAS Rahtawu adalah kurva logaritmik. Kurva aliran hara yang dihasilkan merupakan hubungan antara debit aliran dengan debit hara di Sub DAS Rahtawu. Tabel 6. juga memperlihatkan bahwa kehilangan hara terbanyak adalah bahan organik. Hal ini dimungkinkan karena kandungan bahan organik di sub DAS ini lebih tinggi dibanding unsur hara lainnya. Selain itu, bahan organik yang belum terdekomposisi secara sempurna mudah larut terbawa oleh aliran permukaan. Sedangkan kehilangan hara paling sedikit adalah unsur P. Hal ini dikarenakan kandungan P dalam tanah di Sub DAS Rahtawu relatif kecil. Selain itu, umumnya P sukar tercuci oleh air hujan dikarenakan P bereaksi dengan ion lain dan membentuk senyawa yang tingkat kelarutannya berkurang sehingga menjadi senyawa yang tidak mudah tercuci. Kondisi ini menyebabkan kehilangan P karena proses leaching relatif kecil dibanding unsur hara lainnya.

Tabel 7. Persamaan Lengkung Hara, Debit Hara Rata-rata Harian, dan Kehilangan Hara di Sub DAS Gajah Mungkur selama Periode Hujan Februari 2008 – Januari 2009

Unsur Hara Persamaan

Aliran Hara

Debit Hara

(g/dt)

Kehilangan Hara (kg/ha)
Nitrogen (N) QN = 0,0002 (Q) 1,0012 0,008 3,049
Fosfor (P) QP = 0,0002 (Q) 0,9699 0,007 2,668
Kalium (K) QK = 0,0006 (Q) 1,1696 0,043 15,914
Kalsium (Ca) QCa = 0,0072 (Q) 1,0297 0,319 117,724
Magnesium (Mg) QMg = 0,0129 (Q) 1,0182 0,559 206,588
Karbon (C) QC = 0,0746 (Q) 1,2434 6,819 2.546,772
Bahan Organik (BO) QBO = 0,1286 (Q) 1,2434 11,672 4.358,574

Persamaan aliran hara pada Tabel 7. menggambarkan bahwa bentuk kurva aliran hara yang dihasilkan oleh Sub DAS Gajah Mungkur tidak berbeda dengan Sub DAS Rahtawu, yaitu kurva logaritmik. Kurva aliran hara yang dihasilkan merupakan hubungan antara debit aliran dengan debit hara di Sub DAS Gajah Mungkur. Sama halnya dengan Sub DAS Rahtawu, kehilangan hara terbanyak di Sub DAS Gajah Mungkur adalah bahan organik. Hal ini dimungkinkan karena bahan organik yang belum terdekomposisi secara sempurna mudah larut terbawa oleh aliran permukaan. Kondisi ini didukung kandungan bahan organik di sub DAS ini lebih tinggi dibanding unsur hara lainnya. Sedangkan kehilangan hara paling sedikit adalah unsur P. Hal ini dikarenakan unsur P bereaksi dengan ion lain dan membentuk senyawa yang tingkat kelarutannya berkurang sehingga menjadi senyawa yang tidak mudah tercuci (leaching).

Tabel 6 dan 7 memperlihatkan bahwa debit hara rata-rata harian dan kehilangan hara (N, P, K, Ca, Mg, dan BO) melalui aliran permukaan dan leaching di Sub DAS Gajah Mungkur lebih kecil dibanding Sub DAS Rahtawu. Parameter karakteristik hujan, yaitu intensitas hujan maksimum 30 menit (Imax30’) jelas memberikan pengaruh yang nyata terhadap kehilangan hara di kedua sub DAS baik melalui aliran permukaan maupun leaching. Intensitas hujan yang tinggi selama 30 menit berpotensi menjadi aliran permukaan. Dengan Imax30’ yang sama kedua sub DAS memberikan tanggapan yang berbeda terhadap besarnya kehilangan hara. Faktor-faktor yang memengaruhi perbedaan besarnya kehilangan hara per satuan luas (per hektar) dari kedua sub DAS sangat bergantung pada kondisi biogeofisik masing-masing sub DAS, antara lain: topografi, komposisi vegetasi dan pola penggunaan lahan, kapasitas infiltrasi dan kandungan hara dalam tanah. Perbandingan kehilangan hara di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur berdasar Imax30’ disajikan dalam Lampiran 6 dan 7.

Topografi sub DAS berpengaruh terhadap laju aliran permukaan dan leaching yang membawa unsur-unsur hara keluar dari sub DAS melalui aliran air sungai. Sub DAS Rahtawu mempunyai kelerengan lebih tinggi dibanding Sub DAS Gajah Mungkur sehingga apabila terjadi hujan dengan intensitas tinggi, maka laju aliran permukaan yang terjadi di Sub DAS Rahtawu relatif lebih besar dibanding Sub DAS Gajah Mungkur. Kondisi ini menyebabkan kehilangan hara N, P, K, Ca, Mg, dan BO di Sub DAS Rahtawu lebih besar daripada Sub DAS Gajah Mungkur.

Vegetasi dan pola penggunaan lahan di kedua sub DAS berpengaruh terhadap proses infiltrasi, intersepsi, evapotranspirasi, dan laju aliran permukaan yang pada akhirnya berpengaruh terhadap debit hara dan besarnya kehilangan hara. Sub DAS Rahtawu didominasi oleh tanaman sejenis dengan struktur tajuk tunggal. Kondisi ini berpotensi timbulnya aliran permukaan yang relatif besar pada saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi yang berakibat pada besarnya kehilangan hara di sub DAS tersebut. Sedangkan struktur vegetasi yang heterogen melalui pola pertanaman campur yang diterapkan di Sub DAS Gajah Mungkur menyebabkan stratifikasi tajuk yang beragam sehingga mampu meredam energi kinetik air hujan. Kondisi ini didukung dengan penerapan teknik konservasi tanah di sub DAS tersebut sehingga mampu memperlambat laju aliran permukaan yang terjadi.

Selain kedua faktor di atas, besarnya kandungan hara N, P, dan Ca dalam tanah di Sub DAS Rahtawu menyebabkan kehilangan hara N, P, dan Ca di Sub DAS tersebut lebih besar dibanding Gajah Mungkur. Kondisi ini didukung oleh tingginya kadar lengas tanah di Sub DAS Rahtawu sehingga menurunkan kapasitas infiltrasi sub DAS tersebut. Hal ini menyebabkan air hujan yang jatuh di Sub DAS Rahtawu cepat berubah menjadi aliran permukaan dibanding Sub DAS Gajah Mungkur.

Tabel 8.  Uji Beda Rata-rata Kehilangan Hara di Sub DAS Rahtawu dan Gajah Mungkur

Unsur Hara Rata-rata Kehilangan Hara Std. Error Mean t-hitung Probabilitas (Sig)
Sub DAS Rahtawu Sub DAS

Gajah Mungkur

Sub DAS Rahtawu Sub DAS

Gajah Mungkur

Nitrogen 0,05 0,02 0,004 0,001 6,12** 0,000
Fosfor 0,04 0,02 0,003 0,001 5,80** 0,000
Kalium 0,21 0,12 0,020 0,010 4,17** 0,000
Kalsium 2,38 0,89 0,200 0,050 7,21** 0,000
Magnesium 2,20 1,55 0,200 0,090 2,91** 0,006
Bahan Organik 80,20 31,99 7,890 2,400 5,84** 0,000

Keterangan : ** = Signifikan pada taraf uji 1% (α = 0,01)

Tabel 8. memperlihatkan bahwa besarnya nilai probabilitas signifikansi semua unsur hara lebih kecil dari 0,05. Artinya bahwa kehilangan hara di kedua sub DAS berbeda secara signifikan pada taraf uji 0,01 (tingkat kepercayaan 99%). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehilangan hara (N, P, K, Ca, Mg, dan BO) di Sub DAS Rahtawu berbeda sangat nyata (jauh lebih besar) dibanding kehilangan hara di Sub DAS Gajah Mungkur.

Kondisi ini menggambarkan bahwa selain faktor topografi, kondisi vegetasi dan pola penggunaan lahan secara optimal terbukti mampu menekan laju kehilangan hara dari tapak. Hal ini terbukti dengan penerapan pola pertanaman campur dan teknik konservasi tanah yang sesuai di Sub DAS Gajah Mungkur memberikan dampak besarnya kehilangan hara di sub DAS tersebut per satuan luas (per hektar) lebih kecil dibanding kehilangan hara di Sub DAS Rahtawu.

Kesimpulan

Memerhatikan hal-hal yang telah diuraikan dalam bab pendahuluan sampai dengan bab hasil dan pembahasan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

  1. Debit aliran rata-rata harian yang terjadi selama periode hujan Februari 2008 – Januari 2009 di Sub DAS Rahtawu adalah 75,68 l/dt dan total volume aliran 1.344.383,30 m3. Sedangkan debit aliran rata-rata harian dan total volume aliran yang terjadi di Sub DAS Gajah Mungkur, yaitu 40,95 l/dt dan 800.322,27 m3. Perbedaan kondisi topografi dan luas sub DAS memberikan hasil berupa keluaran debit aliran yang berbeda. Selain itu, stratifikasi tajuk yang heterogen di Sub DAS Gajah Mungkur memberikan pengaruh positif terhadap penurunan debit aliran yang diakibatkan oleh hujan.
  2. Besarnya kehilangan hara (N, P, K, Ca, Mg, C, dan BO) melalui aliran permukaan dan leaching yang terjadi selama periode hujan Februari 2008 – Januari 2009 di Sub DAS Rahtawu berturut-turut adalah 5,6; 4,9; 26,34; 284,23; 274,04; 5.926,93 dan 10.220,93 kg/ha. Hasil ini lebih besar dibanding Sub DAS Gajah Mungkur, yaitu: 3,05; 2,67; 15,91; 117,72; 206,59; 2.546,77 dan 4.358,57 kg/ha. Secara statistik, rata-rata kehilangan hara di kedua sub DAS mempunyai perbedaaan yang sangat nyata. Kelerengan yang tinggi dan kapasitas infiltrasi yang rendah di Sub DAS Rahtawu menyebabkan kehilangan hara di sub DAS ini lebih besar dibanding Sub DAS Gajah Mungkur. Selain itu, pemanfaatan lahan secara optimal dengan pola pertanaman campur dan penerapan teknik konservasi tanah di Sub DAS Gajah Mungkur menghasilkan keluaran hara lebih kecil dibanding pola pertanaman monokultur di Sub DAS Rahtawu.
  3. Manajemen lahan yang tepat seperti dalam pola pertanaman campur (agroforestri) dengan penerapan teknik konservasi tanah yang sesuai terbukti mampu menekan laju kehilangan hara dari lahan sehingga memperlambat laju degradasi lahan. Dengan kata lain, agroforestri mampu memberikan nilai kemanfaatan ekologis yang tinggi pada suatu bentang lahan.

B. Saran

  1. Adanya konflik kepentingan dalam upaya pemanfaatan sumberdaya hutan dan lahan seringkali menyebabkan terganggunya ekosistem hutan yang berdampak serius pada kerusakan hutan. Oleh karena itu, diperlukan model pengelolaan sumberdaya hutan yang tepat guna mengatasi permasalahan tersebut. Agroforestri, sebagai upaya optimalisasi penggunaan lahan dan diversifikasi produk, dapat diterapkan pada kawasan-kawasan sekitar hutan yang mengalami konflik lahan. Harapannya, konsep ini mampu menjadi salah satu alternatif penyelesaian masalah tersebut.
  2. Dari uraian di atas hendaknya penelitian ini dapat dilanjutkan dengan mengaji aspek hidrologi kawasan terhadap kelestarian ekologi dan kelestarian ekonomi serta sosial budaya setempat. Diharapkan hasil penelitian ini dapat dijadikan bahan kajian awal dalam mengaji kemanfaatan agroforestri terhadap nilai ekonomi dan sosial budaya masyarakat setempat pada khususnya dan masyarakat sekitar hutan pada umumnya.

DAFTAR PUSTAKA

—-, 2001. Pengaruh Penanaman Campur (Mix Planting) Pinus dengan Puspa terhadap Pertumbuhan, Tata Air, Erosi, dan Neraca Hara. Laporan Penelitian. Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Barrow, C.J., 1991. Land Degradation. Cambridge University Press.  295p.

Farida dan M.V. Noordwijk, 2004. Analisis Debit Sungai Akibat Alih Guna Lahan dan Aplikasi Model Genriver pada DAS Way Besai, Sumberjaya. Agrivita 26 (1), 39 – 47.

Fisher, R. F. dan D. Binkley, 2000. Ecology and Management of Forest Soil. Third Edition. John Wiley and Sons Inc, Canada.

McNeely, J.A., 2004. Nature vs. Nurture: Managing Relationships between Forests, Agroforestry and Wild Biodiversity. Journal of Agroforestry Systems 61, 155–165.

Stringer, L.C., 2008. Testing the Orthodoxies of Land Degradation Policy in Swaziland. Journal of Land Use Policy. G Model, 653-665.

Suryatmojo, H., 2007. Respon Daerah Aliran Sungai Terhadap Hujan. Studi Kasus pada Sub DAS Hutan Pinus dan Sub DAS Hutan Campuran, di Kecamatan Karang Tengah, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Tesis. Program Pasca Sarjana, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Wade, T.G., K.H. Riitters, J.D. Wickham, dan K.B. Jones, 2003. Distribution and Causes of Global Forest Fragmentation. Conservation Ecology Discussion Paper 7 (2): 7. U.S. Environmental Protection Agency.

Wihandana, A., 1999. Perubahan Karakteristik Hidrokimia Unsur Hara dari Air Hujan Sampai Limpasan di Sub DAS Hutan Daerah Krumpakan-Mangunrejo, Kajoran, Magelang. Skripsi. Fakultas Geografi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: