Soegijono

ini mungkin berguna

Penilaian Dampak Perubahan Penggunaan Lahan Terhadap Erosi Tanah dengan Menggunakan Penginderaan Jauh dan SIG di Sub DAS Mesaam, Bali

Posted by soegijono pada 47

Degradasi lahan merupakan masalah utama di dunia dan isu penting di Konvensi PBB untuk Desertifikasi, Konvensi Biodiversity dan Protokol Kyoto. Menurut FAO, definisi degradasi lahan adalah penurunan kapasitas produktif lahan secara temporal maupun permanen. Berdasarkan definisi ini, degradasi lahan berhubungan erat dengan kualitas tanah. Salah satu bentuknya adalah erosi tanah, yang merupakan proses pemecahan dan transportasi tanah pada permukaan lahan oleh angin dan air yang dipengaruhi oleh faktor alam (energy hujan, materi induk tanah, kedalaman tanah, dan topografi/kemiringan lereng) dan faktor antropologi (tipe vegetasi, tutupan vegetasi dan praktek managemen) (El-Swaify, 1994). Dengan demikian erosi tanah adalah fungsi dari erosivitas dan erodibilitas tanah (kondisi fisik tanah, kondisi topografi dan tutupan vegetasi/penggunaan lahan). Erosi tanah merupakan salah satu bencana sumber daya alam, yang jika terjadi terus menerus akan memicu terjadinya bencana alam lain, seperti tanah longsor dan banjir.

Erosi tanah adalah masalah utama yang terjadi secara meluas hingga kini di Provinsi Bali. Hal ini ditunjukkan dengan peningkatan angka lahan kritis dan sedimentasi di beberapa DAS, khususnya di Sub DAS Mesaam yang merupakan bagian dari DAS Sabah Daya. Wilayah ini mempunyai intensitas hujan tinggi dan kondisi topografi yang bervariasi. Selama 30 tahun, penggunaan lahan di wilayah ini berubah secara drastis. Hal ini dipicu oleh peningkatan jumlah penduduk yang cepat sehingga pemenuhan kebutuhan hidup dasar seperti makanan dan tempat tinggal juga meningkat. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, penduduk membuka lahan untuk pertanian dan perkebunan secara terus menerus tanpa mempertimbangkan kondisi tanahnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa Sub DAS Mesaam mempunyai potensi tinggi untuk terjadnya erosi tanah.

Pemantauan erosi tanah di Sub DAS Mesaam agak sulit dilakukan akibat dari kondisi lahan yang berbukit dan bergunung serta peningkatan populasi penduduk yang cepat. Hal ini juga dipicu oleh ketiadaan data spasial perubahan penggunaan lahan secara cepat. Dengan kata lain, keberadaan data fisik spasial yang tersedia secara cepat sangat penting untuk memantau dan menghitung erosi tanah yang terjadi.

Integrasi teknik penginderaan jauh dan SIG sudah digunakan untuk menghitung nilai erosi sejak tahun 1970. Proses erosi meliputi perubahan waktu dan tempat, yang mana SIG merupakan alat yang optimal untuk memperbaharui informasi tentang erosi. Sedangkan teknik penginderaan jauh merupakan alat untuk mendeteksi dan memantau perubahan penggunaan lahan sebagai masukan untuk model perhitungan erosi tanah.

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pemanfaatan teknik penginderaan jauh dan SIG dalam: (1) menilai dan membuat peta perubahan penggunaan lahan; (2) menganalisis dampak perubahan penggunaan lahan terhadap erosi tanah; dan (3) membuat peta erosi tanah.

Metode Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Sub DAS Mesaam yang merupakan bagian dari DAS Sabah Daya, Bali.  Secara keseluruhan, luas Sub DAS Mesaam adalah 1870.1 ha, yang terletak di bagian utara Provinsi Bali meliputi kecamatan Bangli. Berdasarkan Peta Repprot Jawa dan Bali, wilayah ini mempunyai material berupa tuff, andesit dan lava dengan bentuk lahan berupa dataran, perbukitan dan pegunungan serta topografi berbukit (900-1600 m). Rata-rata hujan tahunan di wilayah ini adalah 717.4 mm dengan hujan bulanan tertinggi adalah 159.7 mm pada bulan Januari. Sedangkan jenis tanahnya adalah Ultisol, Inceptisol dan Entisol.

Penelitian ini dibagi menjadi dua tahapan utama, yaitu menghitung perubahan penggunaan lahan dan membuat peta erosi tanah di Sub DAS Mesaam dengan menggunakan teknik penginderaan jauh dan SIG. Seluruh proses yang dilaksanakan dalam penelitian ini menggunakan software ILWIS 3.4, ENVI 4.3, Arc View 3.2 dan Arc GIS 9.2.

2.1. Penghitungan Perubahan Penggunaan Lahan

Perubahan penggunaan lahan dihitung untuk masa 30 tahun yang dibagi dalam 4 waktu, yaitu tahun 1976, 1989, 2000 dan 2006. Peta penggunaan lahan dalam 4 waktu tersebut diperoleh dari hasil interpretasi visual 4 citra satelit digital, yaitu Landsat MSS (1979), Landsat TM (1989), Landsat ETM (2000) dan Aster (2006). Pemrosesan citra digital awal dilakukan sebelum proses interpretasi, yang meliputi koreksi radiometrik, koreksi geometrik dan penajaman citra (enhancement).

2.1.1. Pemrosesan Citra Digital

Pemrosesan citra digital dilakukan dengan menggunakan software ILWIS 3.4 dan ENVI 4.3. Seluruh data citra satelit digital diperoleh dari ITC, Belanda. Data citra satelit ini telah terkoreksi secara radiometrik. Koreksi radiometrik dilakukan untuk tujuan menghilangkan gangguan atmosfer. Sedangkan koreksi geometrik dilakukan untuk mendapatkan citra yang terkoreksi posisinya secara benar di muka bumi, yang sesuai dengan koordinat dan proyeksinya. Koreksi geometrik  menggunakan metode map to image. Metode ini menggunakan peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) skala 1 : 25.000 sebagai peta referensi. Peta ini diperoleh dari Bakosurtanal. Koreksi ini menggunakan proyeksi UTM (Universal Transverse Mercator) dan koordinat WGS84.

Penajaman citra dilakukan untuk mendapatkan citra dengan kualitas tampilan visual terbaik. Dalam penelitian ini, teknik FCC (False Color Composite) dan NCC (Natural Color Composite)  dipilih untuk mendapatkan tampilan citra terbaik.  Teknik ini menggunakan penggabungan 3 saluran citra (color composite) dari masing-masing citra untuk diberi warna dasar, yaitu Merah (R), Hijau (G), dan Biru (B). Secara umum, komposisi saluran yang digunakan adalah kombinasi antara saluran merah dan infra merah. Kombinasi ini dapat membedakan antara kenampakan vegetasi dan non vegetasi dengan jelas. Area bervegetasi menghasilkan nilai pantulan tinggi pada saluran infra merah dekat dan rendah pada saluran tampak (visible). Sebaliknya, kenampakan air dan awan menghasilkan nilai pantulan pada saluran tampak. Sedangkan batuan dan tanah terbuka memberikan nilai pantulan yang hampir sama pada kedua saluran tersebut.

2.1.2. Peta Perubahan Penggunaan lahan

Peta perubahan penggunaan lahan diperoleh dari hasil tumpang susun 4 peta penggunaan lahan, yaitu peta penggunaan lahan tahun 1976, 1989, 2000 dan 2006, yang dihasilkan dari interpretasi visual yang dilakukan pada semua citra. Klasifikasi penggunaan lahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Klasifikasi 23 kelas seperti yang digunakan oleh Badan Planologi Departemen Kehutanan. Metode interpretasi visual ini mendasarkan pada kunci-kunci interpretasi yang meliputi warna, ukuran, tekstur, bentuk, tone dan pola.

2.2. Metode Penghitungan Erosi Tanah

Penentuan besarnya tingkat erosi tanah diperoleh dengan menggunakan metode sistem pakar (expert system) berupa model pohon keputusan (decision tree). Kemiringan lereng, indeks erosivitas hujan, erodibiltas tanah, jenis tanah dan penggunaan lahan merupakan beberapa parameter untuk menentukan tingkat erosi tanah. Metode sistem pakar diverifikasi dengan pengamatan lapangan.

2.2.1. Peta Kemiringan Lereng

Peta kemiringan merupakan hasil penurunan dari Model Elevasi Digital (DEM). Peta DEM diperoleh dari interpolasi garis kontur secara digital, yang merupakan hasil digitasi dari Peta Rupa Bumi Indonesia skala 1 : 25.000 dengan interval kontur 12.5 m. Peta DEM ini juga digunakan untuk menentukan batas wilayah penelitian yang berupa sub DAS.

2.2.2. Indeks Erosivitas Hujan

Nilai indeks erosivitas hujan diperoleh dari hasil perhitungan pada data curah hujan dengan menggunakan rumus Bols (1978). Data curah hujan diperoleh dari BPDAS Unda Anyar Provinsi Bali yang dicatat pada Stasiun hujan Kintamani. Rumus Bols yang digunakan adalah sebagai berikut :

Rm=6.119 (Rainm)1.21 x (Daysm)-0.47 x (max Pm)0.53

Rm : monthly rainfall erosivity index, Rainm : monthly rainfall (cm), Daysm : number of rainfall days in one month, Max Pm : maximum rainfall in one month (cm)

2.2.3. Erodibilitas Tanah

Nilai erodibilitas tanah dihitung pada masing-masing jenis tanah yang diturunkan dari Peta Tanah Tinjau (1970) dan Peta Repport Pulau Jawa dan Bali (1988). Parameter tanah yang digunakan untuk perhitungan nilai erodibilitas tanah adalah tekstur tanah, kandungan bahan organic, permeabilitas tanah dan struktur tanah. Nilai erodibilitas tanah dihitung dengan menggunakan Rumus Wischeimeir and Smith (1978), sebagai berikut:

100K=1.292 [2.1M1.14(10-4) (12-a) + 3.25 (b-2) + 2.5 (c-3)]   (4.2)

K: soil erodibility, M: soil particle size (%silt+%sand) x (100-%clay), a: organic matter content (%), b: rating of soil structure, c: rating of soil permeability

Hasil dan Pembahasan

Indeks Erosivitas Hujan

Indeks erosivitas hujan di Sub DAS Mesaam, Provinsi Bali pada tahun 2005 kurang lebih sebsar 0,11-329,99 ton/ha/cm. Sedangkan rata-rata indeks erosivitas hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari dan terendah pada bulan Agustus. Indeks erosivitas hujan tertinggi dengan nilai lebih dari 100 terjadi pada bulan Desember sampai April. Ini mengindikasikan pada bulan-bulan tersebut mempunyai potensi tinggi terjadinya erosi. Pada bulan Mei sampai September, intensitas hujan menurun secara drastis. Kondisi ini sangat berbahaya, karena tanah menjadi lembab sehingga kemungkinan terjadinya longsor sangat tinggi.

Erodibiltas Tanah

Berdasarkan hasil perhitungan dengan rumus Bols, erodibilitas tanah Sub DAS Mesaam terbagi menjadi 3 kelas, yaitu sangat rendah, tinggi dan sangat tinggi. Area masing-masing kelas erodibilitas tanah ditunjukkan pada gambar 3.1.

Kemiringan Lereng

Berdasarkan pada peta kemiringan lereng, Sub DAS Mesaam mempunyai topografi yang bervariasi. Tingkat kemiringan lereng mempunyai pengaruh terhadap erosi tanah. Tingkat kemiringan lereng tinggi (>8%) akan memberikan kontribusi besar terjadinya erosi tanah.

Gambar 3.1. Peta Erodibilitas Tanah Sub DAS Mesaam Gambar 3.2. Peta Lereng Sub DAS Mesaam

Penggunaan lahan

Berdasarkan hasil interpretasi secara visual pada citra digital Landsat MSS (1976), Landsat TM (1989), Landsat ETM (2000) dan Aster (2006), Sub DAS Mesaam mempunyai 9 tipe penggunaan lahan yang sebarannya ditunjukkan pada tabel 3.1 dan gambar 3.3.

Pada tahun 1976, kurang lebih 40% area Sub DAS Mesaam tertutup oleh hutan dan 23.92% merupakan lahan pertanian kering campur. Wilayah penelitian didominasi oleh penggunaan lahan dengan kerapatan vegetasi lebih dari 50%, yang berupa hutan dan semak/belukar. Sedangkan lahan kosong hanya 3.33%. Kondisi ini dipengaruhi oleh jumlah penduduk yang sedikit yang mana tingkat pemenuhan kebutuhan hidup dasar juga kecil.

Tabel 3.1 Penggunaan lahan Sub DAS Mesaam Tahun 1976, 1989, 2000 dan 2006

Tipe Penggunaan Lahan Landsat MSS Landsat TM Landsat ETM ASTER
(1976) (1989) (2000) (2006)
Hutan Primer 364.0 401.1 225.2 136.3
Hutan Sekunder 407.7 191.0 253.5 221.9
Semak/Belukar 217.3 57.2 255.5 452.1
Perkebunan 4.7 122.2 429.6 432.8
Pemukiman 0.0 8.9 10.9 28.5
Lahan kosong 62.7 16.8 4.0 107.8
Pertanian Lahan Kering 366.0 35.0 201.6 89.7
Pertanian Lahan Kering Campur 447.6 1003.8 490.8 370.5
Rumput 0.0 35.0 0.0 30.4

Gambar 3.3. Grafik area penggunaan lahan Sub DAS Mesaam tahun 1976- 2006

Pada tahun 1989, pertanian lahan kering campur mendominasi penggunaan lahan di wilayah penelitian sebesar 53.65% yang diikuti oleh hutan seluas 21%. Dibandingkan dengan tahun 1976, luas area hutan mengalami penurunan, terutama pada hutan sekunder, sedangkan luas penggunaan lahan berupa lahan pertanian kering meningkat. Kondisi ini disebabkan adanya okupasi oleh penduduk yang tinggal di sekitar hutan.

Pada tahun 2000, sebaran luas penggunaan lahan berupa hutan, semak/belukar, lahan pertanian kering campur dan lahan pertanian kering adalah 25%, 13%, 26% dan 10%. Sedangkan pemukiman dan lahan kosong mempunyai luasan sebesar 0,58% dan 0,21%. Dibandingkan dengan penggunaan lahan tahun 1989, perubahan penting terjadi dari penggunaan lahan hutan dan pertanian lahan kering campur ke semak/belukar. Kondisi ini diakibatkan oleh petani yang mengganti semua tanaman kopi menjadi jeruk. Sehingga pada citra terlihat adanya perubahan kondisi tutupan vegetasi.

Gambar 3.4. Peta Penggunaan Lahan Sub DAS Mesaam tahun 1976, 1989, 2000 dan 2006

Pada tahun 2006, prosentase luas hutan, semak/belukar, perkebunan dan lahan pertanian kering campur adalah 25%, 17%, 23% dan 19%. Sisanya adalah pemukiman, rumput, lahan pertanian kring dan lahan kosong. Pada tahun ini, hampir semua penggunaan lahan mengalami perubahan luasan. Dibandingkan dengan penggunaan lahan tahun 2000, perubahan penggunaan lahan terbesar terjadi dari semak/belukar dan pertanian lahan kering campur ke perkebunan.

Perubahan Penggunaan Lahan

Sub DAS Mesaam mengalami perubahan penggunaan lahan yang sangat besar dalam kurun waktu 30 tahun (1976-2006), terutama perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi semak/belukar, perkebunan, pemukiman, lahan kosong dan rumput. Perubahan penggunaan lahan terbesar terjadi pada penggunaan lahan perkebunan.

Pada periode 1976-1989, perubahan penggunaan lahan terjadi pada hampir semua tipe penggunaan lahan dengan prosentase lebih dari 90%. Lahan kosong berubah total menjadi tipe penggunaan lahan lain. Hutan mengalami perubahan seluas 47%. Hutan primer tidak mengalami perubahan terlalu luas, karena lokasinya yang terletak di pegunungan dan perbukitan, sehingga sulit dijangkau. Di samping itu, penduduk di wilayah penelitian memiliki kearifan lokal (local wisdom) untuk menjaga hutan. Hal ini juga ditunjang oleh program rehabilitasi lahan dan hutan dari Departemen Kehutanan.

Pada periode 1989-2000, perkebunan, lahan pertanian kering dan rumput berubah total menjadi tipe penggunaan lahan lain. Dibandingkan dengan perubahan penggunaan lahan pada periode 1976-1989, perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi tipe penggunaan lahan lain meningkat, yaitu sebesar 63%. Akibat adanya kebijakan ekonomi dan politik di Indonesia pada waktu itu, perubahan penggunaan lahan terjadi lebih besar dibandingkan pada periode sebelumnya.

Table 3.2. Perubahan penggunaan lahan di Sub DAS Mesaam tahun 1976-2006

Land use Area of land use changes (ha)
1976 1989 1976-1989 2000 1989-2000 2006 2000-2006
Hutan primer 364.0 401.1 37.1 225.2 -175.9 136.3 -89.0
Hutan sekunder 407.7 191.0 -216.7 253.5 62.5 221.9 -31.6
Semak/Belukar 217.3 57.2 -160.1 255.5 198.3 452.1 196.6
Perkebunan 4.7 122.2 117.5 429.6 307.4 432.8 3.3
Pemukiman 0.0 8.9 8.9 10.9 2.0 28.5 17.6
Lahan kosong 62.7 16.8 -45.9 4.0 -12.8 107.8 103.9
Pertanian lahan kering 366.0 35.0 -331.0 201.6 166.6 89.7 -111.9
Pertanian lahan kering campur 447.6 1002.8 555.2 489.8 -513.1 370.5 -119.3
Rumput 0.0 35.0 35.0 0.0 -35.0 30.4 30.4

Pada periode 2000-2006, perubahan penggunaan lahan terutama terjadi pada lahan kosong, pemukiman, hutan sekunder dan lahan pertanian kering. Perubahan pada hutan primer relatif kecil, hal ini merupakan salah satu indikasi dari keberhasilan Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan yang dilaksanakan oleh Departemen Kehutanan. Sedangkan sebagian besar hutan sekunder berubah menjadi perkebunan dan semak/belukar. Sejak tahun 2004, kualitas jeruk menurun dan petani mengubah tanaman jeruk menjadi kopi. Akibat dari permintaan pasar dan harga kopi yang tinggi, petani mengubah pertanian lahan kering menjadi perkebunan kopi.

Perhitungan Erosi Tanah

Secara umum, area yang mengalami tingkat erosi tinggi adalah di sepanjang sungai dan lembah. Kemiringan lereng yang tinggi, tingkat erodibilitas tanah tinggi dan lahan kosng atau lahan dengan tutupan vegetasi kurang dari 20% adalah parameter utama yang menyebabkan terjadinya erosi. Kenampakan erosi berupa riil dan gully sering terjadi pada lembah dengan kemiringan lereng yang tinggi. Perbedaan tipe penggunaan lahan juga memberikan perbedaan pada tingkat erosi tanah. Pada jenis tanah dan kemiringan lereng yang sama, hutan memberikan kontribusi pada terjadinya erosi lebih kecil dibandingkan dengan lahan pertanian atau semak/belukar. Perubahan penggunaan lahan, terutama dari perkebunan kopi menjadi perkebunan jeruk dan lahan pertanian kering, seperti, jagung dan sayuran, merupakan faktor yang menyebabkan terjadinya erosi. Struktur pohon dan kanopi tanaman kopi membuat aliran air hujan dapat tertahan dibandingkan dengan pertanian lahan kering dan tanaman jeruk, di samping adanya tanaman pelindung pada tanaman kopi. Air hujan yang langsung jatuh ke tanah dapat menyebabkab erosi lebih besar karena aliran permukaan juga lebih besar, dibandingkan dengan air hujan yang turun melalui daun dan batang. Selain itu kesuburan tanah juga berkurang lebih cepat.

Pada 1976, hampir seluruh wilayah penelitian tertutup oleh hutan. Kondisi ini memberikan dampak pada tingkat erosi, yang mana luas wilayah dengan erosi tingkat tinggi relatif rendah. Sedangkan lahan kosong dan pertanian lahan kering memberikan kontribusi yang tinggi pada terjadinya erosi. Pada tahun 1989, luas wilayah yang mengalami erosi lebih besar dibandingkan pada tahun 1976. Hal ini dikarenakan adanya penurunan luas hutan. Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi lahan kosong dan perkebunan menyebabkan peningkatan erosi pada kelas erosi tinggi. Peningkatan jumlah penduduk dan pemenuhan kebutuhan dasar hidup penduduk menyebabkan perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi perkebunan dan lahan pertanian kering campur.

Tabel 3.3. Tingkat erosi tanah di Sub DAS Mesaam pada periode 1976-2006

Tingkat Area tingkat erosi tanah
Erosi Tanah 1976 1989 2000 2006
(ha) (%) (ha) (%) (ha) (%) (ha) (%)
Ekstrem tinggi 116.5 6.2 223.6 12.0 108.2 5.8 121.3 6.5
Sangat tinggi 283.8 15.2 326.7 17.5 336.5 18.0 366.4 19.6
Tinggi 492.1 26.3 460.0 24.6 553.6 29.6 501.2 26.8
Moderate 571.1 30.5 510.4 27.3 534.6 28.6 593.3 31.7
Rendah 328.7 17.6 293.4 15.7 289.5 15.5 231.5 12.4
Sangat rendah 77.9 4.2 56.0 3.0 47.8 2.6 56.3 3.0
Total 1870.1 100.0 1870.1 100.0 1870.1 100.0 1870.1 100.0

Gambar 3.5. Grafik tingkat erosi di Sub DAS Mesaam pada 1976-2006

Gambar 3.6. Peta Erosi Tanah Sub DAS Mesaam tahun 1976-2006

Kesimpulan

Sub DAS Mesaam terletak pada dataran tinggi dengan ketinggian antara 900-1600 dengan didominasi oleh area yang mempunyai kemiringan lereng lebih dari 8%. Intensitas hujan rata-rata bulanan adalah 717,4 mm dan indeks erosivitas tertinggi terjadi pada bulan Januari. Berdasarkan, kondisi fisik wilayah penelitian yang meliputi kemiringan lereng, tipe batuan, erodibilitas tanah, dan indeks erosivitas hujan, Sub DAS Mesaam mempunyai potensi tinggi untuk terjadinya erosi.

Pada tahun 1976, kurang lebih 40% wilayah Sub DAS Mesaam tertutup oleh hutan. Akibat adanya pembabatan hutan secara terus menerus, tutupan hutan pada tahun 1989 turun 10%. Pada tahun 2000, tutupan hutan turun seluas 7% dan 5% pada tahun 2006. Periode 1976 sampai 2006, perubahan penggunaan lahan terjadi pada lahan pertanian kering, perkebunan, pemukiman dan lahan kosong. Perubahan penggunaan lahan dari hutan menjadi penggunaan lahan lain meningkatkan terjadinya erosi tanah, terutama pada daerah berlereng.

Data penginderaan jauh multi temporal dan multi spectral mempunyai banyak kelebihan dalam menghitung perubahan penggunaan lahan. Integrasi teknik penginderaan jauh dan SIG dapat digunakan untuk manajemen dan analisis parameter-parameter erosi dan selanjutnya untuk monitoring dan perencanaan wilayah. Pada penelitian ini, teknik penginderaan jauh dan SIG juga digunakan untuk memetakan erosi tanah pada wilayah penelitian.

Rekomendasi

Strategi manajemen aktif yang bertujuan untuk konservasi dan regenerasi hutan harus dilaksanakan secara berkesinambungan untuk mengurangi erosi tanah di wilayah penelitian. Manajemen lahan pada pertanian lahan kering dan perkebunan, terutama pada area berlereng tinggi serta pemilihan tanaman yang sesuai dengan kondisi fisik lahan harus dilaksanakan untuk menjaga lahan dari terjadinya erosi.

Penelitian ini sebaiknya diteruskan dengan menggunakan data-data penginderaan jauh yang mempunyai resolusi sepktral dan spasial tinggi untuk mengekstrak parameter-parameter erosi, seperti data tanah dan penggunaan lahan serta kenampakan erosi. Berdasarkan data perubahan penggunaan lahan, model penentuan besarnya erosi tanah dapat dikembangkan.

REFERENCES

Bergsma, E. 1996. Terminology for Soil Erosion and Conservation. International Society of Soil Science. International Soil Reference and Information Center (ISRIC). International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation (ITC). Wageningen-Enschede. Holland. 313p.

De Jong, S. 1994. Application of Reflective Remote Sensing for Land Degradation Studies in a Mediterranean Environmental. Faculteit Ruimtelijke Weterschappen, Universiteit Utrecht. The Netherlands. 237p.

El-Swaify, Arsyad, S., and Krisnarajah, P. 1983. Soil erosion by water. In Carpenter, R.A., (ed). Natural system for development; 99-161. Macmillan Publ. Co. New York.

FAO. 1983. Guidelines: land evaluation for forestry. Forestry paper 48. Food and Agriculture Organization of the United Nations. Rome. Italy.

FAO. 1979. A provisional methodology for soil degradation assessment with mapping of North Africa at a scale of 1:5 million. Rome: Food and Agriculture Organizations of The United Nations.

ITC. 2001. ILWIS 3.0 Academic: User Guide. Enschede. The Netherlands.

Junus Dai and Rosman. 1970. An explanatory text to the Reconnaissance Soil Map of Bali 1970. Soil Research Institute. Bogor. Indonesia.

Lal, R. and Steward, B.A. 1990. Soil erosion and land degradation. Soil Degradation (Vol II). New York etc: Springer-Verlag

Lillesand, T. M., Kiefer, R. W. and Chipman, J. W. 2004. Remote Sensing and image interpretation (Fifth Edition). New York ex: Wiley and Sons.

Morgan, R.P.C. 1996. Soil Erosion and Coservation 2nd Edition. Longman Group. England. 198p.

Oldeman L.R., Hakkeling R.T.A., and Sombroek, W.G. 1991. World map of the status of human-induced soil degradation: an explanatory note. Second revised edition. ISRIC-Wageningen and UNEP. Nairobi.

Stocking, M.A. and Murnaghan, N. 2000. Handbook for the field assessment of land degradation. Earthscan Publications Ltd. London.

Wischmeier, W. H., Smith, D.D. 1978. Predicting rainfall erosion losses. A guide to conservation planning. USDA Handbook 537. Washington D.C., USA.

Young, A. 1976. Tropical soils and soil survey. Cambridge etc. Cambridge University Press.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: