Soegijono

ini mungkin berguna

Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat dan Pertumbuhan Tahunan Jati (Tectona grandis L.T) di Desa Nong Chin

Posted by soegijono pada 42

Hutan merupakan salah satu ekosistem yang paling berharga di dunia, yang mengandung lebih dari 60 persen dari keanekaragaman hayati di dunia. Keanekaragaman hayati tersebut memiliki beberapa nilai-nilai sosial dan ekonomi, selain dari nilai intrinsik, yang penting dari fungsi ekologis hutan dalam kaitannya dengan tanah dan air serta perlindungan terhadap nilai ekonomi dari berbagai produk yang dapat diambil dari hutan. Bagi banyak masyarakat adat dan masyarakat yang bergantung pada hutan, hutan yang merupakan mata pencaharian mereka memberi mereka tanaman untuk pangan dan untuk obat, hewan buruan, buah-buahan, madu, tempat berteduh, kayu dan berbagai barang lainnya, serta dengan nilai-nilai budaya dan rohani (Vajpeyi, 2001; Verolme dkk., 1999).

Menurut Fisher dkk. (1997),  ketergantungan masyarakat terhadap hutan sangat bervariasi mulai dari ketergantungan besar, dengan sedikit pilihan alternatif, untuk pembukaan lahan dari berbagai relung (niches) melibatkan beberapa tingkatan penggunaan hutan. Perkiraan jumlah orang yang bergantung pada hutan mulai dari satu juta sampai 250 juta (Pimentel et al., 1997), untuk lebih dari satu miliar (WCFSD, 1997 cit. Levang dkk., 2003), atau “hampir seperempat penduduk miskin di dunia “(World Bank, 2000 cit. Fisher dkk., 2002).

Bhumibhamon (2005) menyatakan bahwa semua lahan hutan alam dan sumber daya hutan di Thailand merupakan milik negara. Oleh karena itu, kebijakan hutan bertujuan untuk pelestarian dan pemanfaatan sumber daya hutan. Namun, masyarakat di Thailand menjaga hubungan yang dekat dengan hutan dimana hutan merupakan sumber mata pencaharian bagi sebagian besar masyarakat di pedesaan. Hutan merupakan bagian integral dari kerangka kerja sosial dan budaya bagi masyarakat (NRCT, 1997).

Masalah deforestasi, khususnya di Thailand, telah diklarifikasi selama empat dekade terakhir. Saat ini, Thailand kehilangan hutan alam sekitar 60.475 ha per tahun melalui peladangan berpindah, penebangan liar, pembukaan lahan untuk pertanian tempat tinggal dan bencana alam, dll (FAO, 2003 dan National Park, Wildlife and Plant Conservation Department, 2005 cit. Pibumrung dkk., 2008).

Hilangnya hutan terus berlanjut pada tingkat yang memprihatinkan bersamaan dengan  degradasi lahan pertanian sebagai akibat dari aktivitas manusia. Perluasan lahan penduduk menuntut tambahan areal pada hutan baik untuk mencari nafkah maupun untuk memasarkan barang. Lemahnya praktek-praktek pengelolaan hutan menyebabkan deforestasi di wilayah hutan. Deforestasi yang tidak hanya menyebabkan banjir, erosi dan siltasi di sungai utama, tapi juga kekeringan berkepanjangan di daerah hulu (Bhumibhamon, 2005; Sharp dan Nakagoshi, 2006).

Pengelolaan hutan masyarakat (CFM)  telah meningkat di seluruh dunia dan telah menarik perhatian dari pemerintah, peneliti dan lembaga pendidikan selama dua dekade. Pemerintah, terutama di negara-negara berkembang, telah memprioritaskan CFM melalui sistem pengelolaan hutan tradisional. Di Thailand, CFM tersebut tidak dikenal oleh sistem hukum legal. Namun, secara de facto praktek CFM secara umum di bawah rezim pengelola sumber daya alam. CFM telah dipraktekkan di sini selama ratusan tahun oleh masyarakat setempat, dan merupakan aspek penting dari budaya Thai (Rao, 1985; Salam dkk., 2006).

Ada banyak cara yang dapat digunakan untuk menilai pengelolaan hutan lokal dengan penekanan pada konservasi dan penggunaan yang berkelanjutan, dan berhubungan dengan literasi lingkungan lokal termasuk pengetahuan, nilai-nilai dan praktik, baik oleh analisis kualitatif, atau analisis kuantitatif (Hares, 2006). Untuk menilai kesinambungan pengelolaan hutan, komposisi, keanekaragaman, struktural, dan kelimpahan spesies merupakan indikator penting (Gray dan Azuma, 2005). Potensi  status regenerasi spesies pohon sering menggambarkan komposisi hutan di masa depan yang berdiri di dalam ruang dan waktu (Henle dkk., 2004). Pengetahuan  proses regenerasi jelas berguna untuk memastikan pemeliharaan struktur dan stabilitas ekosistem hutan (Moravie dkk., 1997).

Penelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi pengelolaan hutan oleh masyarakat lokal di Desa Pa Sang Noi, Distrik Mae Chan, Propinsi Chiang Rai. Studi hubungan antara hutan dan masyarakat dilakukan untuk mengidentifikasi kehidupan keseharian masyarakat, praktek pemanfaatan lahan, dan sikap dasar dari masyarakat desa. Survei pada keragaman jenis dan karakteristik struktural dilakukan di hutan alam di sekitar desa untuk melihat bagaimana penduduk mengelola hutan mereka. Studi pada pertumbuhan lingkar tahunan Jati dilakukan untuk melihat bagaimana pertumbuhan Jati dalam kondisi alam dan perkebunan.

Area Studi

Hutan Nong Chin terletak di Desa Pa Sang Noi No.5, Distrik Mae Chan, Propinsi Chiang Rai, Thailand. Mae Chan terletak sekitar 814 km dari utara Bangkok, yang terletak di ketinggian sekitar 419 m dpl, antara garis lintang 20 ° 8’48 “N, dan bujur 99 ° 51’12” E. Total luas wilayah distrik ini adalah 791 km², dihuni oleh 102.586 orang dengan kepadatan penduduk sekitar 129,7 orang/km². Distrik ini dibagi dalam 11 subdistrik (Tambon), yang dibagi menjadi 138 desa (muban), salah satunya adalah Desa Pa Sang Noi.

Desa Pa Sang Noi No.5 didirikan pada sekitar 90 tahun yang lalu oleh pendatang yang berasal dari Chiang Mai. Baru-baru ini ada sekitar 480 orang yang tinggal di desa, kehidupan mereka tergantung secara relatif dengan hutan sekitar yang disebut sebagai Hutan Nong Chin untuk bahan bakar kayu dan hasil non kayu seperti jamur,  tanaman dan serangga. Pendapatan utama penduduk desa diperoleh dari pertanian padi dan tembakau. Penduduk juga bekerja sebagai buruh di musim kemarau. Desa ini dikelilingi oleh tiga bukit, yang didominasi oleh hutan Jati. Penduduk desa telah bekerja dengan pusat pembibitan tanaman hutan di desa selama 21 tahun untuk memperoleh pendapatan tambahan dengan memproduksi bibit, sehingga meningkatkan mata pencaharian mereka tanpa merusak hutan

Studi Hubungan Antara Hutan dan Masyarakat di Desa Pa Sang Noi

Penelitian ini di lakukan melalui wawancara langsung dan menggunakan kuisioner semi tertutup, dengan 53 kepala keluarga sebagai responden. Kuisioner terdiri dari 4 bagian, yaitu informasi dasar responden, kehidupan mereka, rumah dan pekarangan, pengetahuan dan persepsi tentang kehutanan. Data dianalisis secara statistic dengan menggunakan program komputer.

Studi Keragaman Vegetasi di NCCF

Penelitian dilakukan dengan menggunakan 4 plot permanen sebagai sample berdasarkan ketinggian area (daerah tinggi dan daerah rendah). Metode Relevé digunakan dalam penelitian ini dengan nested quadrat design (Mueller-Dombois and Ellenburg, 1974 cit. Stohlgren, 2007),

seperti diilustrasikan dalam gambar 1.

Gambar 1 Layout plot permanen untuk studi keragaman vegetasi di hutan Nong Chin

Ukuran setiap plot sampel permanen adalah 40 x 40 m, 2 plot terletak di dataran rendah (463 m dpl), dan 2 lainnya terletak di dataran tinggi (527 m dpl). Setiap plot sampel dibagi dalam 16 kuadrat (10 x 10 m2). Setiap kuadrat, pohon-pohon dengan diameter sebatas dada (DBH) > 4.5 cm diukur dan dicatat berdasarkan nama lokal. DBH > 4.5 cm umumnya digunakan sebagai ukuran pohon di Thailand karena mampu bertahan terhadap perubahan abiotik and biotik (Koonkhunthod et al., 2007). Label plastik sebagai tanda diletakkan di pohon pada DBH. Tinggi total pohon (H) diukur dengan menggunakan Suunto, DBH pohon diukur dengan menggunakan kaliper aluminium, and diameter tajuk diukur dengan meter tape. Plot berukuran 4 x 4 m dibuat di keempat sudut pada setiap plot. Label plastic diletakkan pada setiap sapling yang memiliki tinggi lebih dari 1.3 m dengan diameter kurang dari 4.5 cm DBH. Nama lokal sapling di catat. Plot berukuran 1 x 1 m dibuat di keempat sudut setiap plot. Label plastik diletakkan di setiap seedling dengan tinggi kurang dari 1.3 m. Nama lokal dicatat.

Pengukuran Pertumbuhan Jati

Studi lapang dilakukan di 2 area yang berdekatan, yaitu di Hutan Tanaman Industri (HTI) Kiewtapyang dan di hutan Nong Chin dengan asumsi bahwa kondisi iklim antara keduanya tidak terlalu berbeda. Pengujian pertumbuhan dan pengambilan sampel dilakukan untuk memperoleh data dasar tentang pertumbuhan Jati berdasarkan arah pengeboran.

Model pertumbuhan Jati bervariasi tergantung dari topografi, praktek-praktek silvikultur, umur pohon, arah mata angin dan kondisi iklim. Oleh karena itu, Palakit (2004), meyatakan bahwa pengambilan sampel harus dilakukan untuk menetapkan pola pusat pertumbuhan yang memunglkin secara akurat.

Di HTI Kiewtapyang, penilaian pertumbuhan  Jati dilakukan dengan menggunakan 4 sampel  plot  sesuai dengan umur pohon, masing-masing berisi 25 plot pohon. Kemudian, 10 pohon dengan nilai DBH rata-rata dipilih dari keseluruhan plot berdasarkan kenampakan pohon arah pengeboran batang.

Di hutan Nong Chin, penilaian pertumbuhan  Jati dilakukan di 4 plot sampel permanen berdasarkan ketinggian (dataran tinggi dan dataran rendah). Dalam rangka untuk mendapatkan data distribusi umur pohon di setiap plot permanen, sampel pohon yang dibor berdasarkan kelas DBH. Pohon-pohon diklasifikasikan ke dalam 5 kelas diameter (10-15 cm, 15-20 cm, 20-25 cm, 25-30 cm, 30-35cm) dan pohon-pohon dibor dari arah selatan.

Berbagai karakteristik pertumbuhan pohon dinilai, termasuk tinggi total, tinggi batang bebas cabang, D10 (diameter 10 cm di atas tanah), DBH, dan diameter tajuk. Tinggi total dan tinggi  batang bebas cabang diukur dengan Suunto, D10 dan DBH diukur dengan caliper aluminium, dan diameter tajuk diukur dengan meter tape. Analisa variance (ANOVA) dilakukan untuk mengevaluasi berbagai perbedaan karakteristik pertumbuhan Jati.

Dalam penelitian ini, prosedur diadaptasikan dari metode yang dikembangkan oleh Huttametta (2004), Palakit (2004), dan Buckley dkk. (2007). Analisis dilakukan di Forest Laboratory of Tropical Dendrochronology, Faculty of Forestry, Kasetsart

University, di Bangkok.

Sampel pohon dipilih di lapangan dengan menggunakan teknik sampel berdasarkan kelas DBH. Pohon yang mewakili sampel dari setiap kelas diameter di setiap plot dibor  setinggi dada menggunakan increment borer. Satu sampel diambil dari setiap pohon dari arah selatan. Sampel ditempatkan dalam sedotan plastik dengan dua ujung nya ditutup dan dilabeli. Sampel dari setiap pohon diambil untuk diteliti pertumbuhan radialnya dengan menggunakan teknik analisis lingkaran pohon.
Di laboratorium, jumlah sampel masing-masing  diperiksa dan disiapkan melalui prosedur standar. Persiapan sampel dilakukan dengan pengeringan sampel pada suhu kamar selama 2-3 hari agar tercapai kelembaban udara. Sampel perlu dibingkai dalam cetakan kayu sebelum pengamplasan dilakukan, karena sampel yang baru dipindahkan dari increment borer adalah kecil dan rapuh. Sampel yang telah kering direkatkan pada cetakan kayu  dengan lem kayu dalam posisi melintang ke atas. Lebar lingkaran tahun dapat dilihat pada posisi melintang pada cetakan kayu pada arah 90 derajat. Kemudian, sampel diamplas sehingga struktur lingkaran tahun akan terlihat jelas di mikroskop dari instrumen yang digunakan. Permukaan sampel sebaiknya diamplas dengan kertas abrasive No 100 sampai No 600 dan diamplas dengan mekanik rotary dan orbital sanding tools. Bila pengamplasan telah selesai, lingkaran tahun dapat terlihat jelas dan  menonjol.

Lebar dan jumlah jumlah lingkaran tahun  diukur dengan menggunakan peralatan yang telah dipersiapkan, yang terdiri dari binokular mikroskop dan moving stage. Peralatan ini terhubung langsung dengan komputer PC, untuk merekam dan mengatur data. Perbesaran mikroskop hingga 40x akan cukup jelas untuk melihat masing-masing sel dalam setiap lingkaran.

Crossdating dilakukan untuk pencocokan pola dari lebar lingkaran tahun diantara sampel kayu. Setelah pengukuran lebar lingkaran tahun, seri-seri lingkaran tahun dicocokkan untuk mencari kesamaan dari pola pertumbuhan Jati dengan memplotkan lebar lingkaran pada skala linear dimana tahun pertumbuhan untuk X-axis dan lebar lingkaran tahun untuk Y-axis dengan menggunakan plotter yang terhubung ke komputer. Pengamatan lingkaran tahun  dilakukan dengan menggunakan  grafik. KUTRA 1.0 (Kasetsart University Tree Ring Analysis 1.0)

Analisa variance (ANOVA) dilakukan untuk mengevaluasi berbagai perbedaan karakteristik pertumbuhan Jati. Pertumbuhan tahunan Jati ditentukan oleh pertumbukan lingkaran tahun Jati.

Hasil dan Diskusi

1. Hubungan Antara Hutan dan Masyarakat

1.1 Kesadaran lingkungan

Penelitian  ini ditekankan pada studi kasus di Desa Nong Chin yang merupakan nama satu-satunya resapan air alami dekat desa. “Nong” berarti air dan “Chin” adalah bagian dari daging. Tempat ini dulunya adalah tempat pemotongan hewan sebelum dikirim ke pasar. Kerbau dan sapi ilegal dipotong di daerah tersebut. Selama periode tersebut, orang-orang membuka hutan dan memnfaatkan sumber daya alam secara berlebihan. Pemimpin desa menginformasikan bahwa hutan telah dibabat dan satwa liar dijadikan hewan buruan. Hal ini mengakibatkan kekeringan dan kekurangan akan air. Di bawah kondisi tersebut, penduduk membahas tentang masa depan mereka.

Pertama, mereka mempertimbangkan akan pentingnya meningkatkan Daerah Aliran Sungai (DAS) untuk menyediakan lebih banyak air bagi masyarakat. Kedua, mereka mencari petugas kehutanan yang dapat memberikan nasihat dan pemahaman tentang peran dan tanggung jawab mereka. Masalah dapat diselesaikan selama tiga dekade terakhir berturut-turut dengan pemulihan sumber daya alam.

1.2  Desa Pa Sang Noi

Dalam penelitian ini, usia responden berkisar antara 19 hingga 87 tahun dengan usia rata-rata 48 tahun. Responden tertua adalah 87 tahun, dan yang responden termuda adalah 19 tahun. Rata-rata jumlah anggota keluarga adalah 3.6. Dalam beberapa keluarga, anggota yang berumur paruh baya bekerja di luar desa dan membawa  anak-anak mereka untuk dirawat oleh anggota keluarga yang lain.

Berdasarkan hasil ini, 65,3% dari responden melaporkan bahwa mereka memperoleh pendidikan Sekolah Dasar, sementara 10,2% belum berpendidikan. Kondisi ini terjadi karena kurangnya kesempatan untuk pendidikan di masa lalu. Pendidikan yang lebih baik diperoleh mungkin selama 30 tahun terakhir. Oleh karena itu, hanya 10,2% responden yang memperoleh pendidikan SLTP, 4,1% yang memperoleh pendidikan SLTA, 4,1% memperoleh pendidiksn diploma / sertifikat, dan 6,1% memperoleh pendidikan non formal.

Hasil Penelitian ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh UNESCO dan Asia/Pasifik Cultural Center for UNESCO (2000) di desa Lo Yo, Distrik Mae Chan, Chiang Rai. Penelitian ini  melaporkan bahwa di masa lalu, pendidikan dan transfer ilmu ke generasi muda pada dasarnya dilakukan oleh orang tua, orang-orang tua dan tokoh masyarakat. “Learning by doing” telah menjadi norma kehidupan.

Berdasarkan periode tinggal di desa, 11,8% responden telah tinggal di desa selama 1-10 tahun, yang lain untuk 11-20 tahun (25,5%), 21-30 tahun (11,8%), 31-40 tahun (15,7%), 41-50 tahun (17,6%), 51-60 tahun (11,8%), dan lebih dari 60 tahun (5,9%). Periode tinggal di desa ini akan menjadi bukti kuat untuk mendukung proses registrasi untuk hutan kemasyarakatan di desa, seperti yang disebutkan oleh Wichawutipong (2005) bahwa hutan kemasyarakatan di kawasan lindung akan diizinkan pada kondisi masyarakat yang di daerah tersebut sebelum tahun 1993 dan ditunjukkan dengan kemampuan mereka untuk melindungi hutan.

1.3     Kehidupan masyarakat

Sebagian besar responden (91,3%) menyatakan bahwa orang-orang di desa hidup dalam kerja sama yang baik. Total 97,9% responden menyatakan bahwa hubungan antara penduduk-sekolah-wihara  baik. Semua responden menyatakan bahwa komite sub distrik membantu mereka dalam membangun dan mengelola pembangunan pedesaan, dan desa mendukung  hutan kemasyarakatan. Sebanyak 97,8% responden menyatakan bahwa pelayanan publik di desa relatif baik, dan semua responden sepakat bahwa penduduk pada umumnya senang tinggal di desa. Namun, hal penting untuk menjadi perhatian adalah bahwa desa masih memiliki beberapa masalah, seperti kekeringan, penyakit, kemiskinan, hutan, dan kriminal (pencurian).

Pola kehidupan yang mirip telah diamati oleh Boonyarattanasoontorn (2006) penelitian di enam desa di Provinsi Chiang Rai, di mana peringkat pertama dari lembaga yang dapat dipercaya dan diandalkan adalah keluarga/kekerabatan, sedangkan wihara, sekolah, dan organisasi di desa merupakan lembaga yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat di daerah pedesaan. Selain itu, berdasarkan pengembangan mata pencaharian sepanjang musim kalender, jelas bahwa warga di desa-desa bekerja sangat keras sepanjang tahun, namun sebagian besar warga tetap dalam kondisi berhutan. Hutang telah meningkat karena tingginya biaya produksi pertanian (bibit, pupuk, dan pestisida, menyewa mesin plugging dan bahan bakar, serta tambahan tenaga kerja). Bencana alam seperti kekeringan dan banjir juga mengurangi hasil pertanian, sehingga petani terpaksa meminjam uang dari uang rentenir lokal untuk investasi selanjutnya.

1.4  Pendapatan keluarga

Rata-rata pendapatan keluarga di desa Pa Sang Noi adalah 6637 Baht/bulan dan rata-rata pengeluaran keluarga adalah 3510 Baht/bulan. Pekerjaan utama mereka  adalah pekerja (52,8%), diikuti oleh tukang kebun (9,4%), petani (11,3%), pedagang (7,5%), pegawai (1,9%), pembuat kerajinan (5,7%), dan penganggur (11,3%).

Berdasarkan garis kemiskinan internasional, yaitu $1/day per kapita dari Perserikatan Bangsa-Bangsa dan $ 2/day per kapita dari Bank Dunia (Deolalikar, 2002), rata-rata pendapatan keluarga di Pa Sang Noi desa menunjukkan bahwa masyarakat hidup di atas garis kemiskinan. Namun, rata-rata pendapatan keluarga lebih rendah dari pendapatan rata-rata provinsi, yaitu 10.495 Baht/bulan/rumah tangga, dan pendapatan rata-rata nasional, yaitu 17.787 Baht/bulan/rumah tangga (Chiang Rai Provincial Statistical Office, 2008).

Dilihat dari kondisi tersebut, pembentukan hutan kemasyarakatan scara legal di desa Nong Chin akan menjadi peluang yang menjanjikan untuk meningkatkan pendapatan rumah tangga. Meskipun tidak ada dukungan keuangan pemerintah secara langsung ke hutan kemasyarakatan secara legal (Wichawutipong, 2005), penduduk dan rumah tangga yang terlibat dalam hutan kemasyarakatan yang terdaftar akan mendapat manfaat hutan hak pengelolaan atas sumber daya hutan (tanpa hukum atas kepemilikan tanah), berbagi manfaat dan biaya berasal dari kegiatan pengelolaan hutan.

1.5 Rumah dan pekarangan

Sebagian besar responden (94,2%) memiliki rumah sendiri. Responden menerima tanah ini dari orang tua mereka (51%), dari sanak keluarga (2%), membeli (44,9%), dan lainnya (2%). Jenis tanaman yang ditanam oleh sebagian besar responden di sekitar rumah mereka adalah mangga, asam, jeruk, jambu biji, tebu, croton, pandan, Citrus hystrix, dan gooseberry. Responden menananm tumbuhan di sekitar rumah mereka untuk kayu dan kayu bakar (43,4%), tanaman hias (41,51%), tanaman untuk dikonsumsi (83,02%), dan tanaman obat (30,19%).

Menurut Gari (2004), halaman rumah atau pekarangan berbeda dan relatif kecil untuk lahan pertanian yang mungkin berisi keanekaragaman vegetasi. Keragaman tanaman mengahsilkan berbagai manfaat, khususnya dalam hal nutrisi dan pendapatan alternatif. Potensi lainnya dari pekarangan rumah adalah untuk budidaya tanaman obat tertentu yang memberikan kontribusi untuk kesehatan primer, ruang yang berguna untuk menghasilkan benih dan bibit yang penting bagi siklus pertanian, dan sumber produk yang cocok untuk populasi perkotaan untuk meningkatkan tambahan pendapatan. Dari penelitian ini, jelas menunjukkan bahwa penduduk di desa Pa Sang Noi telah mengatur pekarangan mereka untuk konsumsi rumah tangga, kesehatan, dan potensi pendapatan alternatif.

1.6 Pengetahuan dan persepsi tentang kehutanan

Pengetahuan responden tentang hutan di Chiang Rai adalah di tingkat normal (sekitar 56,9%). Total 45,8% responden menyatakan bahwa kawasan hutan di Chiang Rai sekitar 40-50%, 31,3% responden menyebutkan di atas 50%, dan 22,9% responden berpendapat kurang dari 40%. Responden berpendapat bahwa manfaat hutan adalah untuk mencegah erosi (69,8%), untuk sumber daya air yang lestari (66%), untuk konservasi keanekaragaman hayati (54,7%), untuk ekowisata (41,5%), untuk habitat hewan liar (67,9%), dan lain-lain (64,2%).

Dari studi ini, responden melihat hutan memiliki peranan penting dalam keseimbangan air, kondisi ekosistem dan iklim mikro. Hasil yang selaras dilaporkan oleh Hares (2006) yang menemukan bahwa di hutan dataran tinggi di utara Thailand, suku Karen menyatakan bahwa pohon memberikan air dan mereka memiliki tradisi khusus untuk melindungi pohon-pohon di DAS yang penting. Suku Lawa juga memiliki upacara perlindungan DAS, sedangkan tradisi suku Hmong, sangat berbeda, dimana sangat kurang larangan penggunaan tanah di DAS. Selain itu, warga berpikir bahwa air di pohon-pohon dan kelembaban dipelihara di tanah membantu dalam mencegah kebakaran dari tanah liar tersebar. Namun, tidak semua jenis pohon yang dianggap penting dalam melestarikan keseimbangan air.

Semua responden sepakat untuk melestarikan hutan. Alasan mengapa mereka sepakat untuk pelestarian hutan adalah untuk mencegah erosi (71,7%), untuk kelestarian sumber daya air (71,7%), untuk konservasi keanekaragaman hayati (54,7%), untuk pangan (45,3%), dan lain-lain (67,9%). Responden menyatakan bahwa upaya yang harus dilakukan jika hutan perlu diawetkan adalah dengan pelestarian (88,7%), kegiatan penanaman pohon (92,5%), pengendalian kebakaran hutan (73,6%), dan mencegah pembalakan liar dari hutan (83%).

Motivasi penduduk desa untuk pelestarian hutan pada prinsipnya berdasarkan pada manfaat ekologis. Pelestarian hutan dianggap sebagai salah satu metode konservasi sumber daya alam. Mencegah erosi dan menjaga keseimbangan air telah dianggap menjadi manfaat yang paling penting dari pelestarian lingkungan. Manfaat lain dari pelestarian hutan umumnya adalah mereka diizinkan untuk mengumpulkan hasil hutan non-kayu dari kawasan lindung, sebagaimana juga disebutkan oleh Wichawutipong (2005) dan Hares (2006).

Sebagian besar responden ingin dilibatkan dalam kegiatan restorasi hutan Nong Chin. Jenis kegiatan yang ingin mereka lakukan adalah penanaman pohon (84,9%), melindungi kebakaran hutan (69,8%), melindungi hutan dari pembalakan liar (64,2%), melindungi satwa liar (37,7%), melindungi hasil hutan non kayu (47,2%), mengendalikan peladangan berpindah (39,6%), pengendalian pemukiman  (43,4%), pengendalian penggunaan air (50,9%), pengendalian perdagangan narkotika (32,1%), pengendalian praktek pertanian (32,1%), dan pendidikan bagi kaum muda tentang konservasi hutan (17%).

Secara ringkas, motivasi penduduk di desa Pa Sang Noi untuk melindungi hutan jelas kuat. Oleh karena itu, pemerintah pusat dan daerah harus memberikan dukungan kepada masyarakat melegitimasi hutan kemasyarakatan dan memberikan insentif baik langsung atau tidak langsung untuk memastikan bahwa masyarakat akan benar-benar mendapatkan manfaat dari kegiatan pengelolaan hutan mereka.

Namun, berdasarkan Undang-undang Hutan Kemasyarakatan sekarang, ada beberapa pembatasan bagi masyarakat untuk mengakses sumber daya alam hutan, terutama di kawasan lindung. Oleh karena itu, seperti yang diusulkan oleh Gilmour et al. (2005) kebijakan pemerintah tentang kehutanan di masa depan harus mengaktifkan masyarakat daripada menekankan pada hukuman. Kebijakan harus mengaktifkan masyarakat pedesaan seperti desa Pa Sang Noi untuk meningkatkan mata pencaharian mereka sendiri dan menjaga kondisi hutan mereka. Pemerintah dan lembaga lainnya harus aktif mendukung dan memfasilitasi masyarakat untuk membantu mereka dengan menghapus segala kendala yang  membatasi masyarakat dalam pembentukan hutan kemasyarakatan dan menjamin bahwa keuntungan yang mengalir ke masyarakat adalah awal untuk mendukung kehidupan dan pengentasan kemiskinan.

Sebagian besar responden menyatakan bahwa sangat penting untuk membuat regulasi rancangan Hutan Kemasyarakat Nong Chin (NCCF)(95%), Illegal logging tidak diperbolehkan di NCCF (98%), tetapi kayu dapat digunakan untuk kegiatan komunal melalui kontrol NCCF komite (95,8% ). Mereka menyatakan bahwa perburuan tidak diperbolehkan di NCCF (89,8%), tanaman obat dapat dikumpulkan hanya untuk digunakan (91,8%), melarang orang-orang dari luar desa untuk mengumpulkan buah-buahan dan jamur dalam NCCF (79,6%), masyarakat dapat mengumpulkan bahan bakar kayu dari NCCF (89,8%), tetapi seharusnya mereka tidak membuat arang di NCCF (93,9%). Mereka menyarankan agar komite administrasi sub distrik menyediakan dana untuk mendukung pengendalian kebakaran hutan di NCCF (92,5%) dan menyediakan dana untuk mendukung peran pemuda dalam konservasi hutan (92,5%). Selain itu, mereka menyatakan bahwa sangat penting untuk mengembangkan dana NCCF untuk pendekatan jangka panjang (92,5%).

Opini dari penduduk selayaknya dipertimbangkan untuk membangun pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Kelestarian hutan berkelanjutan sangat membutuhkan partisipasi dari masyarakat local dan organisasi, kerjasama dari lembaga yang bersangkutan dan dukungan yang kuat dari pemerintah dan LSM. Mengaktifkan badan-badan lainnya, yang memiliki peran signifikan dalam mendorong masyarakat dan organisasi untuk mengelola hutan mereka, juga diperlukan.

2  Keanekaragaman Vegetasi

2.1     Komposisi vegetasi

Total 44 spesies pohon ditemukan di area 6.400 m2, seperti yang tercantum dalam materi tambahan 1. Terdapat 31 spesies pohon di plot dataran rendah dan 29 spesies pohon di plot dataran tinggi, 15 spesies pohon yang umum bagi kedua plots. Jumlah spesies pohon yang terdapat dalam studi ini dapat dibandingkan dengan yang diamati di kawasan hutan lainnya di Northern Thailand. Koonkhunthod dkk. (2007) menemukan 27 spesies pohon di 2.000 m2 di kawasan hutan  gugur campuran di Propinsi Lampang. Sementara itu, Soontornwong dkk. (2007) mencatat hingga 101 spesies pohon di 4.800 m2 di kawasan hutan kemasyarakatan sub distrik Mae Tha, Chiang Mai. Hasil yang berbeda mungkin disebabkan oleh perbedaan dalam adaptasi spesies di lokasi penelitian dan sebagian disebabkan oleh perbedaan teknik sampling.

Total 19 spesies sapling ditemukan di enam belas plot  berukuran 4 x 4 m2, di mana 17 dan 8 spesies sapling ditemukan masing-masing di plot dataran rendah dan tinggi, seperti dijelaskan dalam materi tambahan 2. Jumlah spesies sapling di  plot dataran rendah lebih tinggi dari plot dataran tinggi. Hasil nampaknya disebabkan oleh kondisi topografi di plot dataran tinggi yang berbatu dan kelerengan lebih curam yang mungkin menghambat regenerasi alami beberapa jenis pohon.

Pola serupa ditemukan pada seedling. Total 9 spesies seedling diamati dalam enambelas plot berukuran  1 x 1 m2, di mana 7 dan 4 spesies seedling masing-mssing berada di plot dataran rendah dan tinggi seperti yang ditunjukkan dalam materi tambahan 3. Jumlah spesies seedling di plot di dataran rendah lebih tinggi dari plot dataran tinggi. Seperti yang disebutkan di atas, maka rendahnya jumlah seedling di plot dataran tinggi mungkin disebabkan oleh kondisi topografi yang menhhambat regenerasi alami beberapa jenis pohon.

Selanjutnya, Jati (Tectona grandis) ditemukan sebagai spesies pohon dengan jumlah tertinggi kedua plot dataran rendah dan tinggi, diikuti oleh Pa Sian (Vitex canescens) dan Rang (Shorea siamensis). Keberadaan Rang sebagai spesies dominan pohon juga diamati oleh Marod dkk. (1999) di hutan alam gugur campuran di stasiun penelitian DAS Mae Klong provinsi Kanchanaburi, di mana Jati tidak ditemukan. Jumlah terbesar spesies sapling Pa Sian (Vitex canescens) dan Sor (Gmelina arborea). Sementara itu, spesies seedling didominasi oleh Sor (Gmelina arborea), diikuti oleh Kaed Dum (Dalbergia cultrata) dan Mii Mhen (Litsea glutinosa). Penelitian ini menunjukkan bahwa regenerasi alami dari Pa Sian (Vitex canescens) lebih baik dari jenis tanaman lainnya terkait dengan tingginya jumlah sapling. Sebaliknya, Jati (Tectona grandis) menunjukkan regenerasi alami yang miskin karena kecilnya jumlah sapling dan tidak adanya seedling. Regenerasi alami yang paling miskin adalah Rang (Shorea siamensis) mengingat tidak adanya sapling dan seedling.

2.2  Kerapatan pohon, sapling dan seedling

Kerapatan pohon di NCFF adalah 739 batang/ha, di mana 800 dan 678 batang/ha telah diamati di masing-masing plot dataran rendah dan tinggi. Kerapatan pohon di plot dataran rendah lebih tinggi dari plot dataran tinggi. Rendahnya kerapatan pohon di plot datarantinggi mungkin disebabkan oleh kondisi topografi dimana daerah berbatu dan kelerengan yang curam menghambat distribusi pohon secara acak di seluruh areal plot. Tiga jenis pohon berkontribusi 64,27% dari total kerapatan pohon yaitu (Tectona grandis), Pa Sian (Vitex canescens) dan Rang (Shorea siamensis).

Kerapatan sapling di NCCF adalah 2.031 batang/ha, dimana 3.125 batang dan 937,5 batang/ha ditemukan di masing-masing plot dataran rendah dan tinggi. Sebagaimana kerapatan pohon, kerapatan sapling di plot dataran rendah lebih tinggi dari pada plot dataran tinggi. Enam spesies sapling berkontribusi 59,62% dari total kerapatan sapling. Spesies tersebut adalah Pa Sian (Vitex canescens), Sor (Gmelina arborea), Pe ka (Oroxilum indicum), PII Pai (Elaeocarpus lanceifolius), Por Muen (Colona floribunda), dan Por Yab (Grewia abutifolia). Banyaknya jenis ini menunjukkan bahwa mereka dapat bersaing dengan jenis lainnya dalam seleksi alam untuk mencapai tingkatan pohon.

Kerapatan seedling di NCCF adalah 11.250 batang/ha, dimana 16.250 dan 6.250 batang/ha telah diamati di masing-masing plot dataran rendah dan tinggi. Sebagaimana kerapatan sapling, kerapatan seedling di plot dataran rendah lebih tinggi dari plot dataran tinggi. Tiga jenis seedling untuk 66,67% dari total kerapatan seedling yaitu Sor (Gmelina arborea), Kaed Dum (Dalbergia cultrata), dan Mii Mhen (Litsea glutinosa). Banyaknya seedling ini mengungkapkan bahwa kondisi iklim mikro di lantai hutan cocok untuk ketiga jenis tersebut. Selain itu, Kaed Dum (Dalbergia cultrata) telah ditemukan sebagai spesies dengan regenerasi terbaik mengingat keberadaannya  pada tingkatan seedling, sapling dan pohon.

Secara keseluruhan,  kerapatan seedling adalah tertinggi, diikuti oleh sapling, kemudian pohon. Hasilnya menunjukkan bahwa NCFF memiliki potensi kelimpahan relatif spesies yang masih didominasi seedling yang akan mencapai tingkatan pohon. Hal ini jelas menunjukkan bahwa status regenerasi keseluruhan jenis NCCF dianggap sebagai baik karena jumlah seedling lebih besar dari saplings dan jumlah sapling lebih besar dari pohon dewasa per unit area. Pola yang mirip dari tinggi jumlah seedling dan saplings dalam regenerasi hutan alam juga diamati oleh Deb dan Sundriyal (2008) di India.

2.3 Basal area pohon, distribusi kelas diameter pohon dan  susunan vertikal pohon.

Basal area pohon di NCCF adalah 21,59 m2/ha, dimana 21,37 m2/ha dan 21,8 m2/ha telah diamati di masing-masing plot dataran rendah dan tinggi. Basal area pohon di plot dataran rendah lebih tinggi dibandingkan dengan plot dataran tinggi. Hasil basal area ini cukup mirip dengan yang diamati di hutan gugur campuran di Propinsi Lampang (21,6 m2 per ha) oleh Koonkhunthod dkk. (2007).

Dalam penelitian ini, distribusi kelas diameter pohon berbentuk pola dstribusi inverse J-shape atau L-shape, seperti yang diilustrasikan dalam Gambar 2. Semua spesies, banyak jumlah pohon ditemukan pada kelas diameter lebih kecil, jumlah pohon menurun bertahap seiring dengan meningkatnya kelas diameter. Pola ini menunjukkan regenerasi alami yang khas, dimana keseimbangan ekosistem hutan terpelihara. Hasilnya ini juga menunjukkan rekrutmen berkelanjutan di hutan dengan perluasan populasi dan spesies yang stabil, seperti yang disebutkan oleh Sokpon dan Biaou (2002).

Namun, pola distribusi kelas diameter Jati sedikit berbeda. Di plot dataran rendah, jumlah pohon Jati yang hadir sedikit pada kelas diameter kecil. Hasil serupa juga terdapat di plot dataran tinggi di mana sedikit pohon berada pada kelas-kelas diameter kecil.

Hasil ini menunjukkan kurangnya regenerasi alam pada spesies Jati. Seperti yang disebutkan di atas, jenis kayu Jati hanya hadir dalam beberapa tingkatan sapling dan tidak ada pada tingkatan seedling. Karena itu, upaya untuk mendukung regenerasi alami dari jenis kayu Jati yang sangat diperlukan di NCCF. Ini dapat dilakukan dengan penanaman dalam gap.

Sususnan vertikal pohon di NCCF dibagi menjadi 4 lapisan. Lapisan atas dengan tinggi di atas 18 m, lapisan kedua adalah 12-18 m, yang ketiga adalah lapisan 8-12 m, dan yang terendah pohon dengan tinggi dibawah 8 m.

Figure 2 Distribution of trees diameter classes in  lowland (a) and highland (b) permanent

2.4 Sample plots di NCCF

Keseluruhan plot menunjukkan Jati sebagai spesies  yang menutupi semua lapisan kanopi. Lapisan atas di plot dataran rendah didominasi oleh Jati (Tectona grandis), Rang (Shorea siamensis) dan Kaed Daeng (Dalbergia dongnaiensis). Lapisan kedua diduduki oleh Jati, Kaed Daeng, dan Pa Sian (Vitex canescens). Lapisan ketiga ditutupi oleh Jati, Ki lek Amerika (Sena floribunda), Kaed Daeng, dan Pii Jan (Dalbergia Kana). Sementara itu, lapisan terendah terdiri dari Jati, Pa Sian, Tum Kwao (Haldina cordifolia), dan Load (Aporosa villosa).

2.5 Importance Value Index (IVI), Diversity, Richness, and Evenness Indices

Berdasarkan IVI, tiga spesies pohon yang dianggap sebagai spesies yang paling dominan dalam keseluruhan plot, yaitu. Jati (Tectona grandis), Rang (Shorea siamensis), dan Pa Sian (Vitex canescens). Namun, tingkat pentingnya setiap spesies relatif berbeda terkait dengan variasi pada tingkat kerapatan, frekuensi dan dominasi pada setiap plot. Hasil ini menunjukkan bahwa spesies-spesies pohon dominan tersebut  berasosiasi secara baik dengan spesies lainnya dan asosiai tersebut relatif bergantung pada kondisi area seperti ketinggian, kelerengan, tanah dan kedalaman tanah..
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa Pa Sian, Sor, Pe Ka, Mii Mhen, dan Por Yab sebagai spesies sapling yang paling dominan. Jenis-jenis ini nampaknya sangat menjanjikan untuk regenerasi spesies di NCFF di masa mendatang. Selain itu, adanya Sor dan Pii Pai di plot dataran rendah mungkin muncul kembali atau migrasi dari hutan yang berdekatan terkait ketiadaannya pada tingkatan pohon. Demikian pula, Por Yab dan mii Mhen juga diamati sebagai spesies pendatang baru di plot dataran tinggi.

Keseluruhan plot, Kaed Dum (Dalbergia cultrata) juga muncul sebagai seedling yang paling dominan. Berkaitan dengan tidak adanya Sor dan Mii Mhen pada tingkatan pohon, hasil ini menunjukkan species seedling baru dalam regenerasi alam di NCCF.

Indeks keragaman Fisher pada keseluruhan pohon  di plot NCCF adalah 11,86. Indeks keragaman Shannon’s-Wiener dan indeks keragaman Simpson untuk keseluruhan pohon di plot NCCF adalah 2,287 dan 0,738. Indeks keragaman Hill pada keseluruhan pohon di plot NCCF adalah 9,84 dan 1,355 untuk N1 dan N2. Indeks richness termasuk indeks Margalef (1958) (R1) dan indeks Menhinick (1964) (R2) untuk keseluruhan pohon di plot NCCF adalah 6,982 dan 2,023 untuk R1 dan R2. Indeks evenness, termasuk E1, E2, E3, E4, dan E5 untuk keseluruhan pohon di plot NCCF adalah 0,604, 0,224, 0,206, 0,138, dan 0,04.

3  Analisis Lebar Rata-Rata Lingkaran Tahun Jati

3.1  Lebar rata-rata lingkaran tahun Jati berdasarkan arah pengeboran

Penelitian ini menunjukkan bahwa lebar rata-rata lingkaran tahun pohon Jati di HTI Kiewtapyang adalah 4,152 mm dari utara, 4,241 mm dari selatan, dari 3,983 mm dari timur dan 3,994 mm dari barat. Lebar rata-rata tertinggi ditunjukkan oleh pengeboran dari arah selatan, diikuti oleh bagian utara, barat, dan timur. Namun, analisis variasi menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata diantara arah pengeboran di HTI Kiewtapyang. Hasil ini secara jelas menunjukkan bahwa pertumbuhan kambium di sekitar pohon cukup konstan. Hal ini juga menunjukkan bahwa faktor lingkungan di sekitar pohon kurang lebih seragam mengingat kondisi lapangan dan teknik silvikultur yang diaplikasikan di perkebunan seragam. Selain itu, pola yang mirip dari hasil tersebut  juga dilaporkan oleh penelitian sebelumnya berdasarkan data lingkaran tahun seperti pohon Walnut Afrika (Lovoa trichilioides) oleh Akachuku (1984) dan juga Pinus Skotlandia (Pinus sylvestris)  oleh Mäkinen (1998).

3.2  Lebar rata-rata lingkaran tahun jati berdasarkan kelas diameter dan ketinggian

Lebar rata-rata lingkaran tahun pohon jati di NCCF adalah 4,218 mm untuk diameter kelas 1, 3,370 mm untuk diameter kelas 2, 3,027 mm untuk diameter kelas 3, 2,505 mm untuk diameter kelas 4 dan 2,063 mm untuk diameter kelas 5. Lebar rata-rata lingkaran tahun Jati  berbeda nyata diantara kelas diameter. Lebar rata-rata lingkaran tahun terus meningkat sesuai dengan peningkatan kelas diameter. Semakin besar diameter kelas maka semakin besar lebar rata-rata lingkaran tahun yang diamati. Hasil ini menunjukkan bahwa pohon-pohon dengan diameter yang lebih besar memiliki pertumbuhan diameter tahunan yang besar pula. Namun, analisis lanjutan menggunakan DNMRT hanya mengklasifikasikan lebar rata-rata lingkaran tahun berdasarkan kelas diameter menjadi 4 kelompok.

Penelitian ini menunjukkan lebar rata-rata lingkaran tahun pohon Jati di dataran rendah (3,300 mm) lebih tinggi dari lebar rata-rata lingkaran tahun Jati di dataran tinggi (2,773 mm). Namun, uji sampel independen menunjukkan bahwa lebar rata-rata lingkaran tahun pohon Jati tidak berbeda nyata antara dataran tinggi dan dataran rendah. Sebaliknya, penelitian yang dilakukan oleh Khanduri dkk. (2008) di India menunjukkan bahwa bahwa diameter rata-rata Jati di dataran tinggi (550 msl) telah lebih tinggi dari dataran rendah (200 msl). Hal ini dapat diasumsikan bahwa mungkin perbedaan ketinggian antara dataran tinggi dan dataran rendah di plot NCCF tidak terlalu jauh berbeda (+ 64 m) sehingga lebar rata-rata lingkaran tahun pohon Jati relatif sama. Alasan lainnya adalah bahwa kondisi topografi di dataran tinggi yang relatif lebih curam dan berbatu yang mengakibatkan rendahnya lebar rata-rata lingkaran tahun terkait dengan ruang tumbuh yang marjinal. Sementara itu di plot dataran rendah memiliki tanah lebih dalam dan relatif datar dibandingkan dengan plot di dataran tinggi, sehingga menyediakan lebih banyak ruang untuk diameter akar dan batang berkembang.

3.3 Perbandigan antara lingkaran tahun Jati di HTI Kiewtapyang  dan hutan  NCCF

Lebar rata-rata lingkaran tahun pohon jati adalah 3,706 mm di dataran tinggi NCCF,  4,883 mm di dataran rendah NCCF dan 4,241 mm di HTI Kiewtapyang. Lebar rata-rata lingkaran tahun pohon jati tertinggi adalah di dataran rendah NCCF. Hasil ini menunjukkan bahwa ada perbedaan yang nyata antara lebar rata-rata lingkaran tahun di plot dataran tinggi, plot dataran rendah, dan HTI Kiewtapyang. Analisis lanjutan menggunakan DNMRT mengklasifikasikan lebar rata-rata lingkaran tahun setiap area menjadi 2 kelompok.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pertumbuhan Jati di kondisi alam relatif lebih baik dari kondisi perkebunan. Hal ini berbeda dengan penelitian Koonkhunthod dkk. (2007) yang melaporkan pertumbuhan diameter di perkebunan lebih tinggi daripada yang diamati di sekitar hutan alam di provinsi Lampang. Hasil yang berbeda ini mungkin disebabkan perbedaan jarak tanam, pengelolaan dan kondisi lingkungan perkebunan di daerah penelitian yang berbeda.

KESIMPULAN DAN SARAN

Penelitian ini menunjukkan bahwa masyarakat memiliki keinginan yang kuat untuk  mengelola hutan mereka untuk masa depan mereka. Penelitian pada keragaman vegetasi menunjukkan bahwa Jati merupakan spesies utama yang mungkin dapat meningkatkan kehidupan masyarakat dengan menanam Jati di tanah mereka sendiri. Penelitian ini menunjukkan upaya penduduk untuk mengelola hutan mereka untuk menjadi kaya dengan keanekaragaman hayati dan membuat mereka memutuskan untuk membentuk hutan kemasyarakatan. Sesuai dengan motivasi yang tinggi dari masyarakat dalam pembentukan NCCF, penelitian lanjutan diperlukan untuk menentukan potensi kegiatan untuk mendukung pengelolaan NCCF.

Restorasi hutan alam diperlukan untuk Jati (Tectona grandis), Rang (Shorea siamensis), dan Pa Sian (Vitex canescens). Restorasi hutan alam juga diperlukan dengan pemilihan Multi Purpose Trees Species (MPTS) yang dapat dikonsumsi dan pohon buah liar juga dianjurkan untuk memberikan makanan bagi satwa liar, sehingga dapat meningkatkan keanekaragaman hayati. Penilaian periodik di plot sampel permanen adalah penting untuk memantau proses regenerasi alam dan suksesi di NCCF. Tambahan plot sampel juga dipertimbangkan untuk meningkatkan interpretasi dari penelitian ini. Karena plot permanen terletak pada lintas alam, adalah penting untuk menggunakan plot tersebut untuk pendidikan bagi kaum muda dan masyarakat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Jati di kondisi alam relatif lebih baik dari kondisi perkebunan. Penelitian ini juga menunjukkan pertumbuhan yang kurang baik di perkebunan. Pengelolaan yang intensif di perkebunan sangat dianjurkan. Studi pertumbuhan tahunan Jati dapat digunakan untuk menentukan kapan penjarangan dapat dilakukan secara tepat di HTI Kiewtapyang untuk merangsang pertumbuhan diameter pohon. Walaupun bibit unggul telah digunakan di perkebunan, studi pertumbuhan tahunan masih diperlukan.

TINJAUAN PUSTAKA

Bhumibhamon, S. (2005). Forest and poverty alleviation in Thailand. In: Forests for Poverty Reduction: Changing Role for Research, Development and Training Institutions. H.C. Sim, S. Appanah and N. Hooda eds. FAO Regional Office for Asia and the Pacific, Bangkok. p.187-192.

Boonyarattanasoontorn, J. (2006). Poverty alleviation and empowerment : A case study of the rural community in Chiang Rai province, northern Thailand. Thammasat Review. 11 (1): 87-14

Chiang Rai Provincial Statistical Office. (2008). Provincial statistical report : 2008. Chiang Rai Provincial statistical office. p. 89-102

Deb, P. and Sundriyal, RC. (2008) Tree regeneration and seedling survival patterns in old-growth lowland tropical rainforest in Namdapha National Park, north-east India. Forest Ecology and Management 255 (12)

Deolalikar, A.B. (2002). Poverty, growth, and inequality. In: Thailand. ERD Working Paper No. 8

FAO. (2003). Forests and Poverty Alleviation, by William D. Sunderlin, Arild Angelsen and Sven Wunder. Chapter in State of the World’s Forests. pp. 61-73. Rome, Italy.

Fisher, R. J., Srimongkontip, S. and C.Veer. (1997). People and Forests In Asia and The Pacific: Situation and Prospects. Asia-Pacific Forestry Sector Outlook Study Working Paper Series No: 27. Forestry Policy and Planning Division, FAO Regional Office for Asia and the Pacific, Bangkok.

Fisher M., Shively, G. and Buccola, S. (2002). Activity choice, labor allocation and forest use in Malawi. Second World Congress of Environmental and Resource Economists, 24-27 June 2002, Monterey, California.

Gari, J.A (2004). Plant diversity, sustainable rural livelihoods and the HIV/AIDS crisis. Bangkok: UNDP; FAO publication.  Rome.

Gilmour, D., O’Brien, N., and Nurse, M. (2005) Overview of regulatory framework for community forestry in Asia. First Regional Community Forestry Forum. RECOFTC.

Gray A.N, David L.A. (2005). Repeatability and implementation of a forest vegetation indicator. Ecological Indicators 5 57–71

Hares, M. (2006). Community forestry and environmental literacy in northern Thailand: Towards collaborative natural resource management and conservation. Academic Dissertation. Faculty of Agriculture and Forestry of the University of Helsinki, for public discussion in Lecture Hall B3, Forestry Sciences Building, Latokartanonkaari 7, Viikki Campus of the University of Helsinki.

Henle, K., Stephen S.,  and Kerstinwiegand. (2004). The role of density regulation in extinction processes and population viability analysis. Biodiversity and Conservation 13: 9–52

Khanduri,  V.P., Lalnundanga, and J. Vanlalremkimi.  (2008).   Growing stock variation in different teak (Tectona grandis) forest standsof Mizoram, India. Journal of Forestry Research 19(3):204-208

Koonkhunthod, N.,  Katsutoshi S., and Sota T. (2007). Composition and diversity of woody regeneration in a 37-year-old teak (Tectona grandis L.) plantation in Northern Thailand. Forest Ecology and Management 247 (2007) 246–254

Levang, P., Dounias, E. Sitorus, S. (2003). Out of the forest, out of poverty?. Paper presented at The International Conference on Rural Livelihoods, Forests and Biodiversity 19-23 May 2003, Bonn, Germany.

Mäkinen,  H.  (1998).  Effect of thinning and natural variation in bole roundness in Scots pine_Pinus sylÍestris L. Forest Ecology and Management 107 p.231–239

Margalef, R., 1958. Information theory in ecology. Gen Syst 3, pp. 36–71.

Marod, Dokrak, Kutintara, Utis, Yarwudhi, Chanchai, Tanaka, Hiroshi, Nakashisuka, and Tohru. (1999). Structural dynamics of a natural mixed deciduous forest in western Thailand. Journal of Vegetation Science 10: 777-786. Sweden

Menhinick, E.P., 1964. A comparison of some species-individuals diversity indices applied to samples of field insects. Ecology 45, pp. 859–861

Moravie, M.A., Pascal, J.P., and Auger, P. (1997). Investigating canopy regeneration process through individual-based spatial models: application to a tropical rain forest. Ecological Modelling 104. 241-260

NRCT. (1997). Edible Multipurpose Tree Species. (ed. Bhumibhamon and Khamkong). National Subcommittee on Research and Development of Forest Resources and Multipurpose Tree Species. 486p.

Pibumrung, P., Gajaseni N., and Popan, A. (2008). Profiles of carbon stocks in forest, reforestation and agricultural land, Northern Thailand. J. of Forestry Research 19(1):11–18.

Pimentel D., McNair M., Buck L., Pimentel, M. and Kamil J., (1997). The value of forests to the world food security. Human Ecology 25: 91-120.

Salam, MD., Noguchi, A.T. and Pothitan, R,. (2006). Community forest management in Thailand: current situation and dynamics in the context of sustainable development. New Forests 31:273–291.

Sharp, A. and Nakagoshi, N. (2006). Rehabilitation of degraded forests in Thailand: policy and practice. International Consortium of Landscape and Ecological Engineering. Springer 2:139–146.

Sokpon, N. and Biaou H.S. 2002. The use of diameter distribution in sustained-use management of remnant forests in Benin: case of Bassila forest reserve in North Benin. Forest Ecology and Management 161: 13–25.

Soontornwong, S., Thaworn, R., Roongwong, A., and Weatherby, M.  (2007) Participatory Monitoring and Assessment of Ecosystem: Lessons Learned for Development. Thailand Collaborative Country Support Program Regional Community Forestry Training Center (RECOFTC). Thailand.

UNESCO and The Asia Pasific Cultural Centre for UNESCO (2000). Case study on education programme in Loh Yo Village, Mae Chan District, Chiang Rai. Hill Area Development Foundation (HADF).

URL http://www.accu.or.jp/litdbase/break/

Stohlgren TJ (2007) Measuring plant diversity – lessons from the field. Oxford University Press, Oxford

Vajpeyi, D.K. (2001). Deforestation, Environment, and Sustainable Development: A Comparative Analysis. Praeger: Westport, Connecticut and London, pp. 111–137.

Verolme, J. Hans, H. and Moussa, J. (1999). Addressing the Underlying Causes of Deforestation and Forest Degradation – Case Studies, Analysis and Policy Recommendations. Biodiversity Action Network, Washington, DC, USA. pp. 141.

Wichawutipong, J. (2005). Thailand community forestry 2005. In:  RECOFTC 2005. First Regional Community Forestry Forum–Regulatory Frameworks for Community Forestry in Asia – Proceedings of a Regional Forum held in Bangkok, Thailand.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: