Soegijono

ini mungkin berguna

Penentuan Rujukan dan Skenario Pengurangan Emisi Karbon Dari Deforestasi dan Degradasi Hutan di Indonesia

Posted by soegijono pada 33

Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sejak tahun 1990an mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Peningkatan emisi GRK mengakibatkan perubahan iklim global yang cukup mengkhawatirkan. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) tahun 2007 melaporkan bahwa kecenderungan suhu permukaan global pada 50 tahun terakhir (1956 – 2006) mengalami peningkatan hampir 2 kali lipat.  Peningkatan suhu global tersebut kemudian dikenal dengan istilah pemanasan global (global warming) (IPCC 2007a).Salah satu GRK paling utama adalah gas CO2. Sekitar 67% peningkatan gas CO2 berasal dari pembakaran bahan bakar fosil dan 33% dari kegiatan penggunaan lahan, alih guna lahan dan hutan (Land Use, Land Use Change and forestry, LULUCF).  Sekitar 350 milyar ton karbon berada pada hutan tropis dan dapat diemisikan ke atmosfir melalui deforestasi dan degradasi hutan (Laporte et al. 2008). Emisi dari deforestasi dan degradasi hutan sebagian besar berasal dari negara berkembang, seperti Indonesia, Kongo dan Brazil (IFCA, 2007a).

Upaya penurunan konsentrasi GRK di atmosfer melalui kegiatan penyerapan karbon yaitu kegiatan penanaman pohon pada lahan-lahan bukan hutan telah dimasukkan dalam Kyoto Protocol (KP). Dalam COP 13 bulan Desember 2007 di Bali, Indonesia mengusulkan untuk memperluas cakupan kegiatan yaitu menurunkan emisi karbon tidak hanya melalui pencegahan deforestasi tetapi juga melalui upaya penurunan laju kerusakan hutan yang kemudian dikenal dengan REDD (Reduction Emission from Deforestation and forest Degradation). Disepakati bahwa REDD akan diimplementatikan secara penuh mulai tahun 2012.

Indonesia sebagai negara yang masih memiliki hutan yang cukup luas dengan laju deforestasi dan  degradasi hutan yang tinggi berpotensi untuk memperoleh dana kompensasi melalui mekanisme REDD. Hal utama yang harus dipersiapkan untuk mengikuti program REDD adalah penentuan REL secara nasional. Hal ini mengingat perjanjian REDD akan dibuat diantara negara, namun demikian Indonesia masih menegosiasikan untuk membuat REL nasional.

Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Menyusun reference emission level (REL) secara nasional, kelompok pulau besar dan provinsi. (2) Memperkirakan target penurunan emisi karbon berdasarkan beberapa skenario yang bisa  diajukan Indonesia untuk mendapatkan kredit karbon melalui program REDD.

Waktu dan Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni – Desember 2008 (7 bulan). Unit analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah wilayah nasional Indonesia, kelompok pulau besar dan unit provinsi.

Data dan Sumber

Data utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah:  peta kawasan hutan, peta penutupan lahan hasil penafsiran citra landsat 5/Thematic Mapper (TM) liputan tahun 1990-an, landsat 7 Enhanched Thematic Mapper (ETM) liputan tahun 1999/2000, 2002/2003 dan 2005/2006, Data  pengelolaan hutan dan data pendukung lainnya diperoleh dari Direktorat Jenderal Bina Produksi Kehutanan dan sumber lain yang relevan. Data estimasi stok karbon pada berbagai kategori penggunaan lahan diambil dari  panduan IPCC tahun 2006 volume 4 tentang AFOLU (Agricurture, Forestry and Other Land Use).

Estimasi Perubahan Stok Karbon

Pada penelitian ini metode estimasi yang digunakan adalah tier 1 (tier = tingkat kedetailan) pedoman inventarisasi GRK secara Nasional yang dikeluarkan oleh IPCC tahun 2006 volume 4 untuk sektor AFOLU. Perhitungan karbon pada pedoman IPCC 2006 untuk sektor AFOLU dilakukan pada enam kategori penutupan lahan, yaitu: hutan (forest land), lahan pertanian termasuk peternakan (cropland), padang rumput (grassland), lahan basah (wetland), permukiman (settlement) dan lahan lainnya (other land).

Pada metode  tier 1 diasumsikan perubahan stok C untuk biomasa di bawah permukaan tanah tidak mengalami perubahan. Dengan demikian perhitungan perubahan stok C  pada masing-masing kategori penggunaan lahan untuk perhitungan pada tier 1 rumus yang digunakan adalah :

ΔCLUi =ΔCAB ; Dimana ΔCLUi : perubahan stok C pada masing-masing kategori penggunaan lahan. ΔCAB : perubahan stok C pada biomasa di atas permukaan tanah.

Pada penelitian ini untuk menghitung stok karbon tahun 1990-an, 2000, 2003, dan 2006 digunakan pendekatan yang didasarkan atas stok (stock difference method). Sedangkan untuk estimasi stok C untuk penentuan skenario digunakan pendekatan atas dasar proses (Gain-Loss Method).

Perhitungan Perubahan Stok Karbon pada Biomasa

Berdasarkan tabel 4.12 dan tabel 5.9 IPCC 2006 angka stok karbon pada  kategori lahan hutan (forest land) adalah 138 ton C ha-1 dan untuk lahan pertanian/perkebunan (cropland) adalah 10 ton C ha-1. Sedangkan stok karbon pada padang rumput (grassland), permukiman (settlement), lahan basah (wetland),  dan lahan lainnya (other land) diasumsikan kandungan karbonnya nol.

Penyusunan Emisi Rujukan (Reference Emission Level – REL)

Pada penelitian ini metode yang digunakan untuk penyusunan emisi rujukan adalah proyeksi linier dari rata-rata emisi masa lampau (Huettner 2008). Data emisi karbon yang digunakan adalah data hasil perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan metode IPCC. REL yang dibuat adalah : REL Nasional, Pulau/Kelompok Pulau,  Provinsi dan berdasarkan status fungsi kawasan hutan.

Skenario Pengurangan Emisi Karbon dari Deforestasi dan Degradasi Hutan

Untuk membuat skenario apa yang bisa diterapkan pada areal berhutan perlu diketahui status kawasan. Tumpang susun peta areal berhutan dengan data fungsi kawasan hutan akan diperoleh beberapa kelompok pengelolaan hutan, yaitu: (1)Pengelolaan hutan sebagai kawasan konservasi dan lindung; (2)Pengelolaan hutan sebagai hutan produksi; (3)Areal berhutan di luar kawasan hutan.

Berdasarkan kategori status/pengelolaan hutan tersebut kemudian dibuat skenario-skenario yang mungkin diterapkan untuk mengurangi emisi karbon dari  deforestasi dan degradasi hutan dengan melibatkan data pendukung lainnya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Kondisi Penutupan Lahan Indonesia

Luas lahan berhutan dari tahun 1990 hingga tahun 2006 mengalami kecenderungan yang menurun. Pada tahun 1990 lahan berhutan seluas 121,1 juta hektar atau masih 64,43% dari luas total daratan, pada tahun 2000 mengalami penurunan cukup tajam sehingga luas lahan berhutan mencapai angka 94,9 juta hektar atau 50,5% luas daratan dan tahun 2003 menurun lagi menjadi 93,6 juta hektar atau 49,8% luas daratan. Sedangkan data tahun 2006 menunjukkan kenaikan luas lahan berhutan menjadi 98,5 juta hektar atau 52,4 % luas daratan. Grafis luas penutupan lahan dari tahun 1990-2006 disajikan pada gambar  1 dan gambar 2.

Gambar 1  Luas klas penutupan lahan Indonesia tahun 1990-2006.

Gambar 2  Klas penutupan lahan Indonesia di dalam kawasan hutan (KH) dan di luar kawasan hutan (APL).

Reference Emission Level (REL)

Rentang waktu REL yang dibuat adalah antara tahun 1990 – 2020. Pada rentang waktu 1990 – 2006 digunakan data rata-rata stok karbon tahunan yang dihitung dari data stok karbon tahun 1990, 2000, 2003, dan 2006, sedangkan untuk tahun 2007 – 2020 digunakan proyeksi linier berdasarkan data rata-rata historis penurunan stok karbon antara tahun 1990 – 2006.

REL Nasional

Berdasarkan data historis (1990 – 2006) terlihat bahwa telah terjadi penurunan stok karbon pada periode 1990 – 2000 sebesar 235,41 Mega ton per tahun, periode tahun 2000 – 2003 penurunan melambat menjadi 80 Mega ton per tahun, kemudian sedikit naik pada periode 2003 – 2006 sebesar 15,9 Mega ton per tahun. Dari REL Nasional dapat dilihat bahwa proyeksi stok karbon pada tahun 2020 diperoleh angka 12.691 Mega ton. Angka tersebut merupakan selisih angka stok karbon tahun 2006 sebesar 14.091 Mega ton dengan laju pengurangan stok rata-rata tahunan 100 Mega ton selama 14 tahun (2006 – 2020).

Gambar 3  Reference Emission Level (REL) Nasional.

REL Kelompok Pulau Besar

Pengelompokan ke dalam beberapa pulau besar dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang REL yang terbentuk untuk masing-masing kelompok pulau, sehingga mudah dibandingkan antar REL. Pulau yang masih memiliki stok karbon cukup tinggi dengan laju emisi karbon relatif rendah adalah P. Papua. Sedangkan P. Kalimantan dan P. Sumatera memiliki REL yang mirip, di mana laju emisi karbon membentuk pola yang hampir sama dengan kecenderungan menurun cukup besar.

REL Provinsi

Berdasarkan gambaran REL per provinsi dapat dilihat bahwa provinsi yang masih memliki stok karbon lebih dari 1.000 Mega ton hingga tahun 2020 adalah provinsi Papua, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, dan Irian Jaya Barat. Di samping itu gambaran laju pengurangan karbon juga bisa diperoleh. Berdasarkan besar pengurangan karbon rata-rata per tahun, provinsi yang memiliki tingkat pengurangan tinggi adalah provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Riau, Kalimantan Barat dan Papua.

Skenario Pengurangan Emisi Karbon

Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, bahwa konversi lahan terjadi di semua kategori fungsi hutan. Konversi lahan berhutan menjadi lahan lainnya menyebabkan penurunan stok karbon (emisi karbon). Pada hutan konservasi (KSA-KPA) terjadi emisi karbon rata-rata per tahun sebesar 3,83 Mega ton, hutan lindung (HL) sebesar 4,36 Mega ton, hutan produksi (HPT, HP, HPK) sebesar 56,43 mega ton dan pada areal di luar kawasan hutan (APL) sebesar 35,38 Mega ton.

Pada penelitian ini dibuat tiga kelompok skenario, yaitu : 1) skenario pengurangan emisi pada hutan konservasi dan hutan lingdung; 2) skenario pengurangan emisi karbon pada hutan produksi; dan 3) skenario penguranagan emisi karbon pada areal diluar kawasan hutan.

Skenario Pengurangan Emisi pada Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung

Pada kawasan hutan konservasi (KSA-KPA) dan hutan lindung (HL) berdasarkan peraturan yang ada tidak diperkenankan adanya pemungutan hasil hutan kayu maupun konversi lahan. Dengan demikian secara teoritis pada kawasan konservasi dan hutan lindung tidak mengalami pengurangan penutupan lahan berhutan. Pada kenyataannya penurunan luas lahan  berhutan pada kawasan konservasi dan hutan lindung terjadi sehingga stok karbon yang dikandungnya berkurang. Pengurangan stok karbon yang terjadi rata-rata per tahun adalah 3.83 Mega ton pada KSA-KPA dan 4,36 Mega ton pada HL.

Luas areal berhutan berdasarkan data tahun 2006 pada kawasan konservasi dan hutan lindung adalah sekitar  38,2 juta hektar. Berdasarkan laju penurunan karbon pada hutan konservasi dan hutan lindung adalah sebesar 8,19 Mega ton. Jika laju penurunan karbon tersebut bisa ditekan hingga mencapai 0, maka  potensi karbon yang bisa diajukan untuk mendapat kompensasi REDD untuk hutan konservasi dan hutan lindung adalah sebesar 8,19 Mega ton karbon per tahun atau setara dengan emisi CO2 sebesar 30,03 Mega ton per tahun.

Skenario yang bisa diterapkan untuk pengurangan emisi karbon pada hutan konservasi dan hutan lindung adalah dengan menjaga keberadaan hutan. Upaya lain yang bisa ditempuh adalah dengan mengembangkan sebuah sistem untuk memperbaiki pengelolaan lahan dan vegetasi melalui sharing pengelolaan bersyarat bagi petani kecil di sekitar kawasan hutan. Dengan cara ini diharapkan masyarakat ikut menjaga keberadaan hutan dan tetap mendapat manfaat dari hutan dengan memanfaatkan jasa kehutanan non kayu. Namun demikian pelaksanaannya harus dengan pengawasan yang ketat.

Skenario Pengurangan Emisi Karbon pada Hutan Produksi

Berdasarkan data penutupan lahan tahun 2006 di hutan produksi masih terdapat hutan seluas 51,9 juta  hektar. Stok karbon yang dikandung sekitar 7.298 Mega ton. Fluktuasi karbon pada hutan produksi sangat dipengaruhi oleh pemanenan kayu, pengambilan kayu untuk kayu bakar dan gangguan hutan (kebakaran hutan) dan konversi ke lahan pertanian. Berdasakan data statistik kehutanan produksi kayu bulat (tahun 1994-2006) rata-rata  per tahun adalah 17,78 juta m3. Produksi kayu bulat tersebut berpotensi  menurunkan stok karbon hutan sekitar  26 Mega ton karbon.

Sumber penurunan stok karbon hutan yang lain adalah berasal dari pengambilan kayu untuk keperluan kayu bakar. Menurut Sumardjani dan Waluyo (2007) konsumsi kayu bakar untuk industri di Indonesia sebesar 3.516.980 m3 per tahun.  Diperkirakan sekitar 10,5% kebutuhan kayu bakar untuk industri berasal dari sektor kehutanan. Dengan demikian pengambilan kayu bakar dari hutan adalah 369.289 m3 atau setara dengan karbon 0.542 Mega ton.

Gangguan hutan berupa kebakaran hutan juga menjadi penyebab terjadinya penurunan karbon hutan. Berdasarkan data dari statistik kehunanan (Dephut 2006), angka kebakaran rata-rata per tahun yang terjadi dari tahun 1997-2006 pada hutan produksi seluas  63.974,44 atau setara dengan 8,83 Mega ton karbon.

Dengan demikian total kehilangan karbon akibat pemanenan kayu secara legal, pengambilan kayu bakar dan kebakaran hutan adalah sebesar 35,372 Mega ton karbon. Jika dibandingkan dengan laju penurunan karbon pada hutan produksi 56,43 Mega ton per tahun, maka terdapat selisih angka penurunan yang cukup besar yaitu sebesar 21,058 Mega ton karbon. Selisih sebesar 21,058 Mega ton atau setara dengan emisi CO2 sebesar 77,3 Mega ton per tahun ini berpotensi untuk dialokasikan untuk pasar REDD.

Upaya yang bisa dilakukan untuk menurunkan laju pengurangan stok karbon pada hutan produksi diantaranya adalah:

a)      Penghentian konversi hutan produksi menjadi lahan pertanian/perkebunan. Berdasarkan data tahun 2006, stok karbon pada HPK sekitar 1.500 Mega ton.

b)      Menekankan kembali kewajiban pengelolaan hutan secara lestari (sustainable forets management – SFM) sesuai dengan pedoman dan aturan internasional untuk Reduced Impact Logging (RIL). Priyadi et.al (2006) menyatakan bahwa dengan penerapan RIL dalam SFM bisa mengurangi dampak kerusakan hutan hingga 30-50% jika dibandingkan dengan praktek penebangan konvensional.

c)      Percepatan pembentukan institusi untuk menangani areal hutan ’open access’ (terbuka/bebas diakses).

Skenario Pengurangan Emisi Karbon pada areal di Luar Kawasan Hutan

Pada areal di luar kawasan hutan yang berpotensi sebagai penyimpan karbon adalah lahan berhutan dan lahan pertanian/perkebunan. Areal berhutan di luar kawasan hutan adalah hutan yang dimiliki oleh masyarakat atau yang biasa disebut sebagai hutan rakyat. Menurut data tahun 2006 keberadaan hutan rakyat ini cukup luas yaitu sekitar 8,3 juta hektar dengan stok karbon sekitar 1.480 Mega ton.  Laju penurunan karbon berdasarkan data historis adalah sebesar 35 Mega ton per tahun.

Pengelolaan hutan rakyat ada dibawah kewenagan pemilik lahan, sehingga untuk mengontrol/membatasi pemanfaatan kayu sulit dilakukan. Namun demikian jika ada kompensasi yang memadai sebagai pengganti untuk mempertahankan lahan berhutan maka kemungkinan pemilik lahan akan mempertahankan sebagai hutan. Penerapan sistem agroforestry merupakan jalan tengah yang bisa dilakukan pada lahan-lahan milik masyarakat. Dengan demikian stok karbon masih bisa dipertahankan dan masyarakat masih tetap mendapatkan manfaat ekonomi dari usaha pertaniannya di bawah tegakan hutan.

Estimasi Pengurangan Emisi Karbon Nasional

a)      Perkiraan maksimal

Jika diterapkan skenario ekstrim yang maksimal, yaitu mempertahankan keberadaan hutan, maka stok karbon akan stabil sama dengan data tahun 2006 yaitu sekitar 14 Juta Mega ton karbon. Berdasarkan REL nasional, diperkirakan stok karbon yang akan hilang dari deforestasi dan degradasi hutan adalah sebesar 100 Mega ton per tahun atau setara dengan emisi sebesar 367 Mega ton CO2.  Dengan demikian emisi yang bisa dipertahankan adalah sekitar 367 Mega ton CO2.  Harga karbon untuk sektor kehutanan di pasar internasional  berkisar 5 –  25 USD per ton CO2 (Lampiran 15), maka potensi yang bisa diperoleh dari REDD adalah sekitar 1,8  –  9,2 Milyar USD.

b)      Perkiraan berdasarkan kebutuhan kayu aktual

Bagaimanapun kebutuhan akan kayu hingga saat ini belum bisa dihindarkan secara total. Berdasarkan perkiraan kebutuhan industri yang berbahan baku kayu untuk tahun 2005 saja diperkirakan sekitar 63,9 juta m3 (Sumardjani dan Waluyo, 2007). Jika dikonversi ke stok karbon maka kebutuhan kayu bulat untuk industri perkayuan adalah  93,8 Mega ton karbon. Jika ditambah angka penurunan karbon yang berasal dari kebakaran hutan sebesar 8,83 Mega ton dan dari pemanfaatan kayu untuk kayu bakar sebesar 0,542 Mega ton,  maka  jumlahnya melebihi angka pada REL, yaitu 100 Mega ton per tahun.

Dengan demikian berdasarkan kebutuhan kayu aktual, pengurangan emisi karbon tidak bisa dilakukan. Jika kondisi tersebut tetap seperti itu maka program REDD sulit diterapkan.

c)      Perkiraan berdasarkan pengurangan kebutuhan kayu industri.

Kemampuan pasokan kayu bulat secara legal dari hutan alam sebenarnya rata-rata per tahun  hanya sebesar 17,78 juta m3 dan produksi kayu dari hutan rakyat sebesar 12,04 juta m3, sehingga ada selisih yang cukup besar (sekitar 34,08 Juta m3) antara kebutuhan kayu dan kemampuan pasokan kayu legal. Selisih antara pasokan dan kapasitas industri inilah yang oleh beberapa kalangan dicurigai berasal dari sumber yang tidak jelas (illegal).

Jika penggunaan kayu dari sumber yang tidak jelas ini bisa ditekan sampai 0 maka potensi karbon yang bisa dihemat sekitar 50 Mega ton karbon atau setara dengan emisi 183,5 Mega ton CO2 . Nilai uang yang bisa didapatkan sekitar 0,92 – 4,6 Milyar USD.

Kesimpulan

  1. Berdasarkan perhitungan stok karbon nasional yang dihitung dari perubahan penutupan lahan Indonesia dari tahun 1990 – 2006 diperoleh hasil bahwa stok karbon Indonesia mengalami penurunan yang  cukup banyak. Pada periode tahun 1990 – 2000 terjadi penurunan sekitar sekitar 3.442 Mega ton, tahun 200 – 2003 terjadi penurunan sekitar 182 Mega ton dan pada periode 2003 – 2006 mengalami kenaikan sekitar 689 Mega ton. Laju kehilangan karbon netto per tahun  sekitar 100 Mega ton.
  2. Penurunan stok karbon yang tinggi terjadi pada provinsi Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Riau, Kalimantan Barat dan Papua. Sedangkan pada provinsi Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur dan Jawa Tengah terjadi peningkatan (surplus).
  3. Berdasarkan skenario mempertahankan stok karbon seperti pada kondisi tahun 2006, maka potensi karbon yang bisa diperdagangkan sekitar 367 Mega ton CO2 dengan nilai uang  sekitar 1,8  –  9,2 Milyar USD. Sedangkan dengan skenario pemenuhan kebutuhan kayu hanya bersumber dari kayu yang syah saja (penghindaran illegal logging), karbon yang bisa diperdagangkan sekitar 183,5 Mega ton CO2 dengan nilai uang  0,92 – 4,6 Milyar USD.

Saran

  1. Ditemukan adanya inkonsistensi antar data penutupan lahan beda waktu,  maka dari itu untuk keperluan REDD perlu dilakukan penyempurnaan data penutupan lahan  yang telah dimiliki oleh Departemen Kehutanan.
  2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk estimasi perhitungan stok karbon dengan tingkat kedetailan (tier) yang lebih tinggi yaitu tier 2 atau 3, sehingga memenuhi syarat untuk implementasi perdagangan karbon.
  3. 3. Pengembangan basis data karbon perlu dikembangkan dengan metode yang baik dan menggunakan sumber data yang lebih akurat.

DAFTAR PUSTAKA

Geist HJ,  Lambin EF, 2001. What Drives Tropical Deforestation: A meta analysis of proximate and underlying causes of deforestation based on subnational case study evidence. LUCC Report Series No. 4. Website: http://www.geo.ucl.ac.be/LUCC

Huettner.  2008. Simply REDD?. A Comparation of baselines methods for the reduction of emissions from Deforestation and Degradation as climate protection mechanism in a post-2012 regime. [Thesis]. Wageningen University and research Centre The Netherland.

[IFCA] Indonesia Forest Climate Alliance. 2007a. Laporan Konsolidasi Studi Tentang Metodologi Dan Strategi Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca Dari Deforestasi Dan Degradasi Hutan Di Indonesia (REDDI). Tidak diterbitkan.

[IFCA] Indonesia Forest Climate Alliance. 2007b. Reducing Emissions from deforestation and Forest Degradation in Indonesia (REDDI) : REDD Methodology and Strategies Summary for Policy Makers. Tidak diterbitkan.

[IFCA] Indonesia Forest Climate Alliance. 2008. Pengurangan Emisi Dari Deforestasi Dan Degradasi Hutan Di Indonesia/Reducing Emissions From Deforestation And Forest Degradation In Indonesia (REDDI).

http://www.dephut.go.id/INFORMASI/LITBANG/IFCA/IFCA.htm [26 April 2008]

IPCC 2006. 2006. IPCC Guidelines for National Greenhouse Gas Inventories, Prepared by the National Greenhouse Gas Inventories Programme, Eggleston H.S., Buendia L., Miwa K., Ngara T. and Tanabe K. (eds). Published: IGES, Japan.

IPCC 2007a. Climate Change 2007 : Synthesis Report  – An Assessment of the Intergovernmental Panel on Climate Change. IPCC Plenary XXVII (Valencia, Spain, 12-17 November 2007)

IPCC 2007b. Summary for Policymakers. In: Climate Change 2007: The Physical Science Basis. Contribution of Working Group I to the Fourth Assessment Report of the Intergovernmental Panel on Climate Change [Solomon, S., D. Qin, M. Manning, Z. Chen, M. Marquis, K.B. Averyt, M.Tignor and H.L. Miller (eds.)]. Cambridge University Press, Cambridge, United Kingdom and New York, NY, USA.

Laporte N, Merry F, Baccini A, Goetz S, Stabach J, Bowman M. 2008. Reducing Co2 Emissions From Deforestation And Degradation In The Democratic Republic Of Congo: A First Look. USA : The Woods Hole Research Center (WHRC)

Priyadi, H. et.al. (eds.) Menuju tata kelola hutan yang baik: peningkatan implementasi pengelolaan hutan lestari melalui sertifikasi hutan dan pembalakan ramah lingkungan (Reduced Impact Logging – RIL): Prosiding lokakarya, Balikpapan, 21-23 Juni 2006/ed. by Hari Priyadi, Ahmad Wijaya, Petrus Gunarso, Agung Prasetyo, Tetra Yanuariadi, Mustofa Agung Sardjono, Alfan Subekti, Ahmad Dermawan, Kresno Dwi Santosa. Bogor, Indonesia: Center for International Forestry Research (CIFOR), 2007

Sumardjani L, Waluyo S. 2007. Analisa Konsumsi Kayu Nasional. [Online] http://www.rimbawan.com/kkn/KKN_02mei07_a.pdf akses 28 Oktober 2008

Wollenberg E, Edmunds D, Buck L. 2001. Mengantisipasi Perubahan: Skenario Sebagai Sarana Pengelolaan Hutan Secara Adaptif. Bogor, Indonesia: Center for International Forestry Research (CIFOR).

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: