Soegijono

ini mungkin berguna

Analisis Tapak untuk Rehabilitasi Hutan Rawa Gambut Kalimantan Tengah Menggunakan Citra Spot dan Sistem Informasi Geografis

Posted by soegijono pada 09

Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) sejuta hektar merupakan mega proyek nasional secara ekstensifikasi dengan mengonversi kawasan hutan rawa gambut (peat swamp forest) menjadi areal pengembangan pertanian (CIMTROP dan BAPPEDA Kalteng, 2003). Pembukaan areal gambut yang disertai dengan pembangunan kanal-kanal berukuran besar sebagai sarana pengatusan (drainage) dan simpanan air (BAPLAN, 2006). Fungsi tersebut menjadi kontraproduktif melainkan semakin mengeringkan kawasan eks-PLG serta merombak lapisan antara yang bersentuhan dengan lapisan batuan induk. Hal ini mengakibatkan kekeringan pada lapisan atas tanah gambut dan mengalirkan kandungan kimiawi sulfat masam dari tanah pirit yang teroksidasi (Barchia, 2006).

Perencanaan rehabilitasi yang mempertimbangkan kondisi tapak aman (safe site) (Kimmins, 1996; Bastian dan Steinhardt, 2002) adalah faktor penentu bagi keberhasilan penanaman kembali (replanting) (Nyland, 2003) pada unit tapak tertentu menggunakan jenis insitu (site species) (Yuwati, 2007) karena kondisi tapak eks-PLG telah berubah dibandingkan kondisi awal (Lazuardi, 2002).

Tujuan

1. Mengetahui kemampuan tapak (site capability) blok B eks-PLG

2. Mengetahui potensi restorasi secara vegetatif blok B eks-PLG

3. Mengetahui arahan rehabilitasi hutan dan lahan blok B eks-PLG

Metode

1. Overlay dan scoring unsur-unsur yang mempengaruhi kemampuan tapak (site capability) yaitu: 1). Kematangan gambut (Wetland Int’l, 2004) 2). Ketebalan gambut (Wetland Int’l, 2004) 3). Kedalaman air tanah (Jaya, 2005). Penggabungan ketiganya menghasilkan kelas kemampuan tapak yaitu: 1). Rendah 2). Agak rendah 3). Sedang 4). Agak tinggi; dan 5). Tinggi.

2. Transformasi NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) sebagai metode interpretasi secara digital (Campbell, 2002) pada citra SPOT generasi 4 (Kusumowidagdo dkk, 2007) tahun 2006 liputan blok B eks-PLG Kalimantan Tengah untuk mendapatkan tingkat kerapatan vegetasi (vegetation density) yaitu: 1). Jarang 2). Sedang 3). Rapat.

3. Overlay antara kelas kemampuan tapak dengan tingkat kerapatan vegetasi sehingga menghasilkan potensi restorasi secara vegetatif (vegetatif restoration) hutan rawa gambut di blok B eks-PLG Kalimantan Tengah.

4. Overlay antara potensi restorasi vegetatif dengan arahan peruntukan (Inpres No. 2 Tahun 2007) sehingga menghasilkan arahan rehabilitasi hutan dan lahan di blok B eks-PLG Kalimantan Tengah.

Pembahasan

1. Kemampuan Tapak Hutan Rawa Gambut Blok B Eks-PLG Sejuta Hektar

Hasil dari tahapan overlay Fase I yang merupakan gabungan antara layer (1) kematangan gambut (indikator 1) (2) kedalaman gambut (indikator 2) dan (3) kedalaman air tanah (indikator 3) menghasilkan 11 (sebelas) unit tapak (site unit). Pada masing-masing unit tapak mempunyai informasi ketiga unsur tersebut dan dikombinasikan sehingga menghasilkan nilai (value) berupa skor yang mempunyai klas kemampuan tapak (kriteria). Pembagian dan istilah indikator, kriteria dan verifier ini berdasarkan Prabhu dkk (1999) dalam analisis multikriteria. Identifikasi luasan masing-masing potensi dapat ditampilkan pula pada sajian Peta Kemampuan Tapak Blok B Eks-PLG Sejuta Hektar (Gambar 1) berikut tabulasinya (Tabel 1).

Tabel 1. Luas masing-masing klas potensi kemampuan tapak

blok B eks-PLG sejuta hektar

No. Klas Kriteria Skor Luas (Hektar/Ha)
1. Kurang 4 ±95.553,755
2. Agak rendah 5 ±14.328,550
3. Sedang 6 ±4.091,287
4. Agak tinggi 7 ±11.671,042
5. Tinggi 8 dan 9 ±103.815,419

Sumber : Analisis GIS

Klas potensial tinggi dimiliki oleh unit tapak dengan skor 8 dan 9 yang semuanya berjumlah 3 unit tapak. Luasan total klas potensial tinggi adalah ±103.815,42 ha. Klas potensial tinggi meliputi unit tapak nomor 5, 6 dan 9. Klas potensial agak tinggi dimiliki oleh unit tapak dengan skor 7 yang berjumlah 3 unit tapak. Luasan total klas potensial tinggi adalah ±11.671,04 ha. Klas potensial agak tinggi meliputi unit tapak nomor 4, 7 dan 8. Klas potensial sedang dimiliki oleh unit tapak dengan skor 6 yang berjumlah 3 unit tapak. Luasan total klas potensial tinggi adalah ±4.091,29 ha. Klas potensial sedang meliputi unit tapak nomor 3, 10 dan 12. Klas potensial tinggi dimiliki oleh unit tapak dengan skor 5 yang berjumlah 1 unit tapak. Luasan total klas potensial tinggi adalah ±14.328,55 ha. Klas potensial agak rendah meliputi unit tapak nomor 13. Klas potensial tinggi dimiliki oleh unit tapak dengan skor 4 yang berjumlah 1 unit tapak. Luasan total klas potensial tinggi adalah ±95.553,76 ha. Klas potensial rendah meliputi unit tapak nomor 11.

2. Potensi Restorasi Vegetatif Unit Tapak Blok B Eks-PLG Sejuta Hektar

2.1. Tingkat Kerapatan Vegetasi

Kawasan blok B eks-PLG sejuta hektar menempati areal tengah dari keseluruhan kawasan eks-PLG yang berbatasan langsung dengan blok A (sebelah timur), blok C (sebelah barat), blok E (sebelah utara) dan blok D (sebelah selatan) (BAPLAN, 2006). Interpretasi digital citra SPOT 4 tahun 2006 (Gambar 2) menggunakan metode NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) menghasilkan sebaran tingkat kerapatan vegetasi (Lillesand dkk, 1997) dari klas rendah, agak rendah, sedang, agak tinggi dan tinggi. Pengklasan tersebut berdasarkan nilai NDVI yang disajikan oleh program ENVI. Aplikasi ENVI mengolah saluran (band) pada citra yang merupakan pantulan dari vegetasi di lapangan yaitu sinar merah dan inframerah (Danoedoro, 1996). Aplikasi ENVI menyajikan nilai indeks vegetasi yang mewakili klas tersebut yaitu non-vegetasi (-0,6774 s.d. 0,0000), kerapatan rendah (0,0000 s.d. 0,3000), sedang (0,3000 s.d. 0,6000), tinggi (0,6000 s.d. 9,0000). Distribusi kerapatan vegetasi disajikan dalam Peta Tingkat Kerapatan Vegetasi seperti tertera pada Gambar 3. Hasil uji kappa statistika (Jensen dalam Lillesand dkk, 2000) memperoleh nilai 0,7333 yang berarti bahwa korelasi antara penafsiran citra metode NDVI oleh ENVI dengan cek lapangan yaitu akurat (0,7 sampai dengan 0,8). Gambar 4. Grafik tingkat kerapatan vegetasi blok B eks-PLG sejuta hektar (Sumber: Analisis GIS)

Perbandingan antar-klas didominasi oleh tingkat vegetasi kerapatan sedang seluas ±121.701,09 ha, kemudian tingkat vegetasi kerapatan rendah seluas ±38.925,19 ha pada urutan kedua. Tingkat vegetasi kerapatan tinggi seluas ±11,41 ha sedangkan tanpa vegetasi seluas ±842,32 ha (Gambar 4).

2.2. Klas Kemampuan Tapak dengan Tingkat Kerapatan Vegetasi

Informasi kemampuan tapak Blok B Eks-PLG Sejuta Hektar tersebut kemudian ditumpangsusunkan dengan spatial tingkat kerapatan vegetasi sehingga didapatkan kondisi kerapatan vegetasi pada masing-masing unit tapak dengan klas tertentu. Penggabungan dua tema antara kemampuan tapak dan kerapatan vegetasi menghasilkan potensi restorasi yang mempunyai beragam tingkat kerapatan vegetasi di atasnya yaitu :

1. Kemampuan tapak kurang  pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi

2. Kemampuan tapak agak rendah pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi

3. Kemampuan tapak sedang pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi

4. Kemampuan tapak agak tinggi pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi

5. Kemampuan tapak tinggi pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi

Struktur vegetasi yang nampak pada masing-masing level yaitu rerumputan didominasi purun, paku-pakuan jenis hawuk (Pteris sp.) dan kalakai (Stenochlaena palustris), semak belukar jenis kalalawit (Uncaria sp.), putat (Planchonia valida) dan keput bajuku (Ixora havilandii). Jenis pionir yang ada adalah galam (Melaleuca leucadendron), tanah-tanah/tumih/merapat (Combretocarpus rotundatus), terentang (Campnosperma sp.). Jenis intermediet yang ada adalah jelutung rawa (Dyera sp.), pulai (Alstonia pneumatophora) dan punak (Tetramerista glabra). Jenis klimaks yang ada di ekosistem hutan rawa gambut yaitu nyatoh (Palaquium cochleariifolium), kahui/blangiran (Shorea balangeran), hangkang (Palaquium leiocarpum), nyatoh (Palaquium sp.) dan ramin. Jenis vegetasi yang dibudidayakan dan berada di sekitar kanan kiri Sungai Kahayan dan Sungai Kapuas, berada pada bentuk lahan tanggul alam (natural levee), adalah karet (Hevea brasilliensis), rotan (Calamus sp.) dan pisang.

2.3. Potensi Restorasi dalam rangka Rehabilitasi Blok B Eks-PLG

Penggabungan klas kemampuan tapak dan tingkat kerapatan vegetasi pada wilayah blok B eks-PLG sejuta hektar tersebut menghasilkan perbedaan potensi restorasi secara vegetatif. Potensi restorasi secara vegetatif meliputi full plantation dan suksesi alami.

2.3.1. Full plantation

Rekomendasi full plantation (penanaman secara penuh) diarahkan pada hutan dan lahan yang mempunyai kondisi (Gambar 5a dan 5b):

  1. Kemampuan tapak sedang dan kerapatan vegetasi non-vegetasi
  2. Kemampuan tapak sedang dan kerapatan vegetasi rendah
  3. Kemampuan tapak agak tinggi dan kerapatan vegetasi non-vegetasi
  4. Kemampuan tapak agak tinggi dan kerapatan vegetasi rendah
  5. Kemampuan tapak tinggi dan kerapatan vegetasi non-vegetasi
  6. Kemampuan tapak tinggi dan kerapatan vegetasi rendah
Kemampuan tapak sedang,

kerapatan vegetasi non-vegetasi

Kemampuan tapak sedang,

kerapatan vegetasi rendah

Kemampuan tapak agak tinggi, kerapatan vegetasi non-vegetasi
Kemampuan tapak agak tinggi,

kerapatan vegetasi rendah

Kemampuan tapak tinggi,

kerapatan vegetasi non-vegetasi

Kemampuan tapak tinggi,

kerapatan vegetasi rendah (Kanal primer)

Gambar  5b. Kemampuan tapak sedang, agak tinggi dan tinggi pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi

(Sumber: Cek lapangan, 2008)

2.3.2. Suksesi alami

Rekomendasi suksesi alami (tumbuh secara alami) diarahkan pada hutan dan lahan yang mempunyai kondisi sebagai berikut (Gambar 6a, 6b dan 6c) :

  1. Kemampuan tapak agak tinggi dan kerapatan vegetasi sedang
  2. Kemampuan tapak agak tinggi dan kerapatan tinggi
  3. Kemampuan tapak sedang dan kerapatan vegetasi sedang
  4. Kemampuan tapak sedang dan kerapatan vegetasi tinggi
  5. Kemampuan tapak tinggi dan kerapatan vegetasi sedang
  6. Kemampuan tapak tinggi dan kerapatan vegetasi tinggi
  7. Kemampuan tapak rendah dan kerapatan vegetasi non-vegetasi
  8. Kemampuan tapak rendah dan kerapatan vegetasi rendah
  9. Kemampuan tapak rendah dan kerapatan vegetasi sedang
  10. Kemampuan tapak rendah dan kerapatan vegetasi tinggi
  11. Kemampuan tapak agak rendah dan kerapatan vegetasi non-vegetasi
  12. Kemampuan tapak agak rendah dan kerapatan vegetasi rendah
  13. Kemampuan tapak agak rendah dan kerapatan vegetasi sedang
Kemampuan tapak sedang,

kerapatan vegetasi sedang (Anjir)

Kemampuan tapak sedang,

kerapatan vegetasi tinggi (Mandomai)

Kemampuan tapak agak tinggi, kerapatan vegetasi sedang
Kemampuan tapak agak tinggi,

kerapatan vegetasi tinggi

Kemampuan tapak tinggi,

kerapatan vegetasi sedang (Kanal primer)

Kemampuan tapak tinggi,

kerapatan vegetasi tinggi (Foto: Ruanda, 2006)

Kemampuan tapak rendah,

kerapatan vegetasi non-vegetasi

Kemampuan tapak rendah,

kerapatan vegetasi rendah (Bereng Bengkel)

Kemampuan tapak rendah,

kerapatan vegetasi sedang (Kameloh)

Gambar  6. Kemampuan tapak rendah, sedang, agak tinggi dan tinggi pada berbagai tingkat kerapatan vegetasi

(Sumber: Cek lapangan, 2008)

Kemampuan tapak rendah,

kerapatan vegetasi tinggi

Pertimbangan pengambilan rekomendasi berupa suksesi alami atau dibiarkan tumbuh secara alami karena pada kemampuan tapak rendah mempunyai pembatas lahan yang cukup ekstrim, yaitu kedalaman air tanah yang sangat dalam, kematangan gambut yang masih muda dan ketebalan gambut yang sangat tipis. Ketiga faktor tersebut  memungkinkan vegetasi di atasnya sulit tumbuh dengan baik. Sedangkan pada kemampuan tapak agak rendah diperhitungkan mendekati kondisi kemampuan tapak rendah yang mempunyai faktor pembatas lahan hampir sama. Namun seandainya akan ditempuh dengan perlakuan tambahan (adjusment) untuk menurunkan kesulitan faktor pembatas tersebut maka diperlukan biaya, tenaga dan waktu yang lebih (extra) dibandingkan pada kondisi kemampuan tapak sedang, agak tinggi dan tinggi.

Kemudian pertimbangan pengambilan rekomendasi berupa suksesi alami atau  tumbuh secara alami selain pada kemampuan tapak yang rendah adalah kondisi kerapatan vegetasi, khususnya pada kerapatan vegetasi sedang dan tinggi. Menilik kondisi kemampuan tapak yang sudah rendah dan agak rendah dengan kondisi kerapatan vegetasi yang sedang dan tinggi maka tingkat penyerapan nutrisi tanah cukup intensif oleh vegetasi setempat. Seandainya ditambah dengan vegetasi lain oleh usaha penanaman dengan jenis tertentu (introduce) maka mengakibatkan penyerapan nutrisi tanah yang semakin intensif sehingga diperkirakan semakin memperkurus kandungan nutrisi tanah, meningkatkan persaingan penyerapan nutrisi tanah oleh tumbuhan dan kekerdilan tanaman.

Kawasan hutan di blok B eks-PLG sejuta hektar meliputi jenis penutupan dan penggunaan lahan berupa hutan rawa dan sebagian semak belukar rawa. Sedangkan kawasan non-hutan di blok B eks-PLG sejuta hektar meliputi jenis penutupan dan penggunaan lahan berupa pemukiman, pertanian campuran (kebun masyarakat, tegalan, pekarangan) dan tanah terbuka. Kemudian kondisi tapak yang tergenang menjadi unsur pengurang pada sebaran potensi yaitu berupa rawa (tergenang secara periodik) dan tubuh air (sungai dan kanal).

Kalkulasi secara spatial potensi restorasi vegetatif pada kawasan berhutan di blok B eks-PLG yaitu berupa suksesi alami seluas ±73.823,68 ha dan full-plantation seluas ±3.545,87 ha. Sedangkan potensi restorasi vegetatif pada semak belukar rawa yaitu suksesi alami seluas ±11.881,87 ha dan full-plantation seluas ±35.759,33 ha (Gambar 7). Gambar 7. Perbandingan luas (hektar) potensi restorasi vegetatif pada kawasan berhutan (a) dan semak belukar rawa (b) di blok B eks-PLG sejuta hektar (Sumber : Analisis GIS)

3. Arahan Rehabilitasi Hutan dan Lahan pada Kawasan Blok B Eks-PLG

Arahan RHL tersebut dibandingkan dengan arahan peruntukan/pemanfaatan ruang berdasarkan Inpres Nomor 2 Tahun 2007 tentang Percepatan Rehabilitasi dan Revitalisasi Kawasan PLG Kalimantan Tengah menghasilkan komparasi sebagai dasar rekomendasi rehabilitasi kawasan Blok B Eks-PLG (Gambar 8). Komparasi antara potensi restorasi berikut kemampuan tapak dan arahan peruntukan pada Inpres Nomor 2 tahun 2007 dilakukan dengan overlay keduanya sehingga menghasilkan rekomendasi bagi arahan peruntukan dalam rangka rehabilitasi di kawasan blok B eks-PLG yang lebih komprehensif. Kawasan yang menjadi kajian arahan peruntukan dibagi tiga yaitu (1) kawasan hutan, (2) semak belukar rawa; dan (3) rawa. Ketiga kawasan tersebut merupakan jenis penutupan dan penggunaan lahan di luar pemukiman, pertanian lahan kering campur semak dan tubuh air. Rawa menjadi pertimbangan kajian karena luasan yang cukup besar di blok B eks-PLG dan tergenang sepanjang masa (periodik), namun tidak luput dari lokasi arahan peruntukan tertentu.

3.1. Arahan peruntukan pada kawasan hutan

Berdasarkan Inpres No. 2 Tahun 2007 bahwa kawasan hutan blok B eks-PLG diperuntukkan sebagai hutan galam/purun/HG-P (1,19%; ±919,34 ha), konservasi gambut tebal/KGT (65,67%; ±50.810,39 ha), konservasi hidrologi/KH (5,99%; ±4.630,87 ha), padi sawah/PS (0,57%; ±440,67 ha), padi sawah, palawija dan hortikultura sayuran/PS-P-HS(15,72%; ±12.164,45 ha) dan tanaman tahunan serta buah-buahan/TT-HBB (8,43%; ±6.521,96 ha) serta pemukiman/P (2,43%; ±1.881,84 ha).

Rekomendasi peruntukan untuk mendukung kegiatan rehabilitasi blok B eks-PLG pada kawasan hutan adalah:

a.  Menindaklanjuti arahan peruntukan berupa konservasi gambut tebal.

b.  Arahan peruntukan padi sawah direkomendasikan pada tapak kurang (air tanah dalam, gambut tipis, gambut mentah, tanah mineral dangkal) dengan vegetasi kerapatan rendah dan tidak ada (non-vegetasi) seluas 121,9 ha.

c.  Arahan peruntukan padi sawah, palawija dan hortikultura sayuran direkomendasikan pada tapak kurang (gambut tipis, gambut mentah, tanah mineral dangkal, air tanah dalam) dengan kerapatan vegetasi yang rendah sampai sedang serta non-vegetasi.

d.  Arahan peruntukan tanaman tahunan dan hortikultura buah-buahan pada kondisi tapak kurang sampai dengan tinggi dengan tingkat kerapatan vegetasi yang rendah sampai dengan sedang.

e. Arahan peruntukan pemukiman tidak direkomendasikan menempati tapak dengan kondisi potensi tinggi (gambut tebal, gambut setengah matang, air tanah dangkal, tanah mineral dalam. Sedangkan kerapatan rendah dan non-vegetasi menjadi sasaran rehabilitasi berupa penanaman penuh guna mengembalikan fungsi gambut tebal.

3.2. Arahan peruntukan pada semak belukar rawa

Semak belukar rawa diperuntukkan sebagai hutan galam/purun/HG-P (1,27%; ±604,85 Ha), konservasi gambut tebal/KGT (53,4%; ±25.440,84 ha), konservasi hidrologi/KH (3,46%; ±1.646,17 ha), padi sawah/PS (1,74%; ±827,31 ha), padi sawah palawija dan hortikultura sayuran/PS-P-HS (22,52%; ±10.729,44 ha) dan tanaman tahunan serta buah-buahan/TT-HBB (16,11%; ±7.677,10 ha) serta pemukiman/P (1,5%; ±715,46 ha).

Rekomendasi berdasarkan perbandingan antara kondisi tapak (hasil kajian) dengan kebijakan pemerintah (Inpres No. 2 Tahun 2007) pada tutupan lahan semak belukar rawa di blok B eks-PLG yaitu:

a. Arahan peruntukan berupa hutan galam/purun, konservasi gambut tebal dan konservasi hidrologi sebagai ujud fasilitasi suksesi hutan rawa gambut berupa semak belukar rawa ke jenjang suksesi lebih lanjut seluas 27.691,86 ha. Rekomendasi RHL yang dianjurkan disesuaikan dengan kondisi tapak setempat, baik berupa suksesi alami maupun full plantation menggunakan jenis local species hutan rawa gambut.

b. Arahan peruntukan berupa padi sawah di semak belukar rawa dianjurkan pada kemampuan tapak kurang/lemah/rendah dengan kerapatan vegetasi rendah

c. Arahan peruntukan berupa tanaman tahunan di semak belukar rawa diarahkan pada kondisi tapak kemampuan kurang/lemah/rendah pada kerapatan vegetasi rendah, sedang dan non vegetasi (lahan kosong, bekas terbakar).

3.4. Arahan peruntukan pada rawa

Rawa diperuntukkan sebagai hutan galam/purun/HG-P (5,10%; ±77,56 ha), konservasi gambut tebal/KGT (26,89%; ±409,22 ha), konservasi hidrologi/KH (6,56%; ±99,82 ha), padi sawah/PS (0,86%; ±13,11 ha), padi sawah palawija dan hortikultura sayuran/PS-P-HS (45,16%; ±687,36 ha) dan tanaman tahunan serta buah-buahan/TT-HBB (15,26%; ±232,26 ha) serta pemukiman/P (0,18%; ±2,67 ha).

Arahan peruntukan pada tubuh air rawa berupa hutan galam/purun, konservasi gambut tebal dan konservasi hidrologi merupakan jenis peruntukan yang mungkin dan layak. Sedangkan peruntukan berupa padi sawah, permukiman, padi sawah-palawija-hortikultura sayuran dan tanaman tahunan-hortikultura buah-buahan merupakan jenis peruntukan yang tidak layak di daerah yang tergenang sepanjang tahun. Drainase dengan tujuan pengatusan air genangan di rawa akan berakibat pada lapisan tanah gambut yang terbukanya lapisan pirit sehingga  memunculkan  toksisitas.  Kadar  toksin  yang  berlebih  akan meracuni komoditi tanaman yang diusahakan sehingga tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan sempurna. Kemudian berubahnya fungsi rawa (backswamp) maupun cekungan gambut sebagai simpanan (storage) air limpasan (run off) guna mengendalikan banjir di daerah hilir.

Kesimpulan

Interpretasi digital metode NDVI (Normalized Difference Vegetation Index)  terhadap citra SPOT 4 untuk mengetahui tingkat kerapatan vegetasi secara makro sehingga didapatkan peta tingkat kerapatan vegetasi dengan tiga klas kerapatan yaitu rendah, sedang dan tinggi. Pertampalan unsur kerapatan vegetasi, kemampuan tapak dan penutupan serta penggunaan lahan blok B eks-PLG menghasilkan potensi restorasi, baik luasan maupun lokasinya.

Potensi restorasi vegetatif secara suksesi alami pada semak belukar rawa blok B eks-PLG seluas ±11.881,87 ha, sedangkan secara penanaman penuh seluas ±35.759,33 ha. Potensi restorasi vegetatif secara suksesi alami pada  kawasan hutan blok B eks-PLG seluas ±73.823,68 ha, sedangkan secara penanaman penuh seluas ±3.545,87 ha.

Berdasarkan kajian perbandingan arahan peruntukan menurut Inpres No. 2 Tahun 2007 dengan potensi restorasi kondisi tapak blok B eks-PLG merekomendasikan arahan berupa hutan galam/purun, konservasi gambut tebal dan konservasi hidrologi. Peruntukan padi  sawah, padi sawah-palawija-hortikultura sayuran dan pemukiman dialokasikan pada kemampuan tapak kurang (gambut tipis, gambut mentah, kedalaman air tanah dalam, tanah mineral dangkal) dengan kerapatan vegetasi rendah dan non-vegetasi. Peruntukan tanaman tahunan dan hortikultura buah-buahan dialokasikan pada potensi restorasi secara penanaman penuh dalam rangka rehabilitasi blok B eks-PLG

Saran

Kajian kemampuan tapak untuk mendukung rehabilitasi hutan dan lahan di hutan rawa gambut ini dapat diperkaya lagi dengan unsur-unsur pendukung tapak lainnya misalnya pola sebaran tanah sulfat masam, pola sebaran kebakaran hutan dan lahan, pola sebaran bentuklahan mikro (kubah gambut, dome gambut, ledokan gambut) dan lain sebagainya. Pertimbangan unsur lainnya tersebut akan semakin memperjelas kemampuan tapak hutan rawa gambut guna mendukung restorasi dalam rangka rehabilitasi hutan rawa gambut. Penggunaan citra resolusi spatial yang lebih tinggi, misalnya SPOT 5 dan Quickbird, akan membantu kedetilan informasi tutupan vegetasinya yaitu kerapatan vegetasi. Informasi tutupan vegetasi tersebut akan membantu pola zonasi ekosistem pada hutan rawa gambut.

Pustaka

Adi Jaya, 2005, Study of Carbon and Water on Tropical Peatlands for Ecological Planning, Case Study of The ex-Mega Rice Project in Central Kalimantan Indonesia, Thesis for the Degree of Doctor Philosophy, University of Nottingham, United of Kingdom.

Anonim, 2004, Peta Luas Sebaran Lahan Gambut dan Kandungan Karbon di Pulau Kalimantan, Edisi Pertama, Wetlands International-Indonesia Programme, Bogor.

Anonim, 2003, Perencanaan Pemanfaatan Lahan dan Profil Gambut Eks-PLG di Kota Palangkaraya, CIMTROP Universitas Palangkaraya bekerjasama dengan BAPPEDA Kota Palangkaraya, Palangkaraya.

Anonim, 2006, Master Plan Rehabilitasi Gambut Kalimantan Tengah, BAPLAN Departemen Kehutanan, Jakarta.

Barchia MF., 2006, Gambut : Agroekosistem dan Transformasi Karbon, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Bastian O. and Steinhardt U., 2002, Development and Perspectives of Landscape Ecology, Kluwer Academic Publishers, Dordrecht, The Netherlands.

Campbell JB., 2002, Introduction to Remote Sensing, third Edition, the Guilford Press, New York.

Danoedoro P., 1996, Pengolahan Citra Digital, Fakultas Geografi UGM, Yogyakarta.

Kimmins JP., 1996, Forest Ecology: A Foundation for Sustainable Management, 2th Edition, Prentice Hall Inc., New Jersey, USA.

Kusumowidagdo M., Sanjoto TB., Banowati E. dan Setyowati DL., 2007, Penginderaan Jauh dan Interpretasi Citra, Pusat Data PJ LAPAN dan Jurusan Geografi UNS Semarang.

Lazuardi D., 2002, Pengaruh Beberapa Karakteristik Fisik Lapangan Terhadap Pertumbuhan  Tanaman  Belangiran (Shorea  belangeran ) pada Areal Rawa Gambut di Tumbang Nusa Kalimantan Tengah,  Prosiding Seminar dan Ekspose Hasil-hasil Penelitian Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman Indonesia Bagian Timur,  Banjarbaru.

Lillesand TM. and Kiefer RW., 2000, Remote Sensing and Image Interpretation, 4th Edition, John Wiley and Sons, Inc., USA.

Lillesand TM., Kiefer RW., Sutanto, Dulbahri, Suharsono P., Hartono dan Suharyadi, 1997, Penginderaan Jauh Dan Interpretasi Citra, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta

Nyland RD., 2003, Silviculture Concept and Applications, McGraw-Hill, USA.

Prabhu R., Sukadri D., Purnomo H., Hartanto H., Mendoza GA. dan Macoun P., 1999, Panduan Untuk Menerapkan Analisis Multikriteria dalam Menilai Kriteria dan Indikator, Perangkat Kriteria dan Indikator, Center for International Forestry Research (CIFOR), SMK Grafika Mardi Yuana, Bogor.

Yuwati TW, 2007, Teknologi dan Kelembagaan Rehabilitasi Lahan Gambut: Pemilihan Jenis Pohon untuk Rehabilitasi Hutan Rawa Gambut, Balai Penelitian Kehutanan Banjarbaru – Kalimantan Selatan, Banjarbaru.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: