Soegijono

ini mungkin berguna

Partisipasi Petani Dalam Pengelolaan Hutan Rakyat (Kasus di Kecamatan Kertanegara Kab. Purbalingga, Jawa Tengah)

Posted by soegijono pada 35

UU No. 41 tahun 1999 tentang kehutanan mengamanatkan bahwa masyarakat sekitar hutan perlu diberdayakan dalam rangka meningkatkan peran sertanya dalam pembangunan kehutanan. Salah satu strategi yang dikembangkan sebagai implementasi dari paradigma pembangunan kehutanan adalah pengembangan hutan rakyat. Hutan rakyat adalah konsep pengelolaan hutan yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam menjaga dan memanfaatkan fungsi hutan sedangkan pemerintah berperan sebagai fasilitator yang mendukung upaya kelompok masyarakat dan memastikan berjalannya kepastian hak dan kewajiban dari seluruh pihak. Pengembangan hutan rakyat yang telah dipraktekkan masyarakat di berbagai pelosok tanah air dianggap mampu memberikan manfaat ekonomi, ekologi, dan sosial secara adil dan lestari. Hutan rakyat berperan dalam memenuhi kebutuhan konsumsi kayu, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan menjaga kelestarian lingkungan.

Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat sangat diperlukan agar terjaga kelestarian fungsi dan kemampuan sumberdaya hutan dan ekosistemnya sekaligus   meningkatkan   kesejehteraan  petani. Kemampuan petani dalam budidaya tanaman (sistem silvikultur) merupakan satu hal yang menentukan berhasil tidaknya pengelolaan hutan rakyat. Meningkatnya partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat diharapkan berdampak pada tingkat pendapatan petani.

  1. Bagaimana  partisipasi petani dalam  pengelolaan hutan rakyat?
  2. Bagaimana  kompetensi petani pengelola hutan rakyat?
  3. Faktor – faktor  apa  yang berhubungan dengan  partisipasi petani dalam  pengelolaan  hutan rakyat?
  4. Apakah partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat berhubungan dengan kesejahteraan petani?

Untuk memahami hal-hal tersebut perlu dilakukan studi yang bertujuan :

  1. Mengetahui partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat.
  2. Mengetahui  kompetensi pengelola  hutan rakyat.
  3. Mengetahui faktor – faktor  yang berhubungan dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat.
  4. Mengetahui hubungan partisipasi petani dengan kesejahteraan petani pengelola hutan rakyat.

Dengan hipotesa :

  1. Terdapat hubungan antara faktor internal petani dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat.
  2. Terdapat hubungan antara faktor eksternal   petani dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat.
  3. Terdapat hubungan antara kompetensi petani dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat.
  4. Terdapat hubungan antara partisipasi petani dengan kesejahteraan petani dalam pengelolaan hutan rakyat.

Penelitian dilaksanakan selama dua bulan mulai bulan Maret sampai dengan April 2009.  Lokasi penelitian di Kecamatan Kertanegara Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah. Pemilihan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan 1) lokasi tersebut merupakan kecamatan yang memiliki areal hutan rakyat yang dikelola  petani yang tergabung dalam kelompok tani hutan, 2) kelompok-kelompok tani hutan yang ada di Kecamatan Kertanegara telah berkiprah cukup lama dan memiliki prestasi baik tingkat kabupaten maupun provinsi, 3) aksesibilitas ke lokasi penelitian yang mudah.

Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah petani anggota Kelompok Tani Hutan di Kecamatan Kertanegara, Kabupaten Purbalingga Provinsi Jawa Tengah. Teknik pengambilan sampel dengan sampel acak sederhana (simple random sampling) sebanyak 60 responden.

Data dan Instrumentasi

Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara dengan responden. Data sekunder berasal dari : (1) lembaga penyuluhan meliputi laporan bulanan, laporan triwulan, laporan tahunan, (2) monografi desa, kecamatan, kabupaten dalam angka, (3) hasil-hasil penelitian atau catatan-catatan lainnya yang berkaitan dengan variabel penelitian.

Uji  Validitas Realibilitas

Berdasarkan hasil uji validitas dan uji realibilitas menggunakan metode Crombach-alpa diketahui bahwa kuesioner penelitian dinyatakan valid dan reliabel.

Analisis Data

Data peubah ditabulasi kemudian dianalisis. Hubungan antar peubah untuk menjawab tujuan penelitian dan menguji hipotesis menggunakan Korelasi Product Moment (Sevilla dan Jesus A. Ochave, et. al. 1993), dengan rumus:

Σ xy

rxy = ————–

x2) (Σ y2)

Keterangan : rxy = Korelasi antara variabel x dan y,  x = (X1 – X), y = (Y1 – Y), rxy = (Σ x2) (Σ y2)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Faktor Internal Petani

Umur

Umur petani berkisar 30 sampai 70 tahun dengan rata-rata 51,6 tahun. Pengelolaan hutan rakyat didominasi oleh petani berusia tua, yaitu 23 orang  (38,3%).  

Pendidikan Formal/Nonformal

Rata-rata jumlah tahun menempuh pendidikan formal 7,0 tahun atau setara dengan kelas I SLTP. Tingkat pendidikan formal petani dominan berada pada kategori rendah yaitu 44 orang (73,3%), sedang 12 orang (20%), dan tinggi  4 orang (6,7%).

Jumlah responden dengan pendidikan nonformal rendah sebanyak 39 orang  (65%), sedang 8 orang (13,3%), dan tinggi 13 orang (21,7%). Sebanyak 32 petani (53,3%) pernah mengikuti pelatihan yang berkaitan dengan hutan rakyat, dan 28 petani atau 46,7% belum pernah mengikuti pelatihan.

Jumlah Tanggungan Keluarga

Rata-rata jumlah tanggungan keluarga adalah 4,7 orang. Sebanyak 13 responden (21,7%) dengan kategori rendah,  39 responden (65%) sedang, dan 8 responden (13,3%) tinggi. Tingginya tanggungan keluarga dan keterbatasan lahan hutan rakyat merupakan faktor pendorong petani untuk  semakin intensif mengelola hutan rakyat.

Luas Lahan Usaha tani

Luas lahan usaha tani antara 0,21 – 2,24 ha dengan luas rata-rata 0,65 ha. Sebanyak 44 responden (73,3%) dengan luas lahan yang sempit, 12 responden (20%) dengan luas lahan sedang, dan hanya 4 orang (6,7% ) yang memiliki lahan yang luas.

Pengalaman Berusaha Tani

Pengalaman berusaha tani dominan berada pada kategori rendah, yaitu 36 responden (60%), sedang sebanyak 21 reponden (35%), dan tinggi sebanyak 3 responden (5%).  Rata-rata pengalaman berusaha tani sebesar 21,2 tahun.

Motivasi

Sebanyak 3 orang (5%) memiliki motivasi rendah, 21 orang (35%) dengan motivasi sedang, dan 36 responden (60%) memiliki motivasi tinggi. Para petani mengelola hutan rakyat atas dorongan dan kemauan sendiri. Bantuan dan bimbingan dari pihak lain hanya bersifat pendorong bagi aktivitas usaha tani hutan rakyat.

Faktor Eksternal Petani

Penyuluhan Kehutanan

Intensitas penyuluhan dikategorikan sedang. Sebanyak 12 responden (20,0%)  termasuk kategori rendah, 29 responden (48,3%) sedang,  dan 19 responden (31,7%)  tinggi. Penyuluhan dilaksanakan bersaman dengan pertemuan rutin kelompok. Petani memahami materi penyuluhan yang disampaikan. Materi penyuluhan juga berdampak pada peningkatan usaha tani hutan rakyat. Alasan petani menghadiri penyuluhan antara lain: 1) menjalin silaturahmi, memperkokoh kerjasama, dan hubungan relasional antar petani, 2) mendapatkan informasi baru tentang usaha tani hutan rakyat, dan 3) menambah pengetahuan dan keterampilan berusaha tani.

Kelompok Tani Hutan (KTH)

Manfaat kelompok tani hutan berada pada kategori tinggi. Sebanyak 4 responden (6,6%) rendah, 15 responden (26,7%) sedang, dan 41 responden (66,7%) berada pada kategori  tinggi. Manfaat KTH  antara lain: 1) sebagai salah satu sumber informasi usaha tani hutan rakyat, 2) meningkatkan pengetahuan dan keterampilan berusaha tani, 3) membantu memecahkan masalah yang dihadapi, 4) membantu distribusi bibit dan sarana produksi usaha tani.

Akses Informasi

Informasi yang berhubungan dengan usaha tani hutan rakyat diperoleh petani dari kelompok tani, khususnya dari para pengurus. Sebanyak 9 responden (15%) rendah,  10 orang responden (16,7%) sedang, dan 41 orang (68,3%) memiliki akses informasi tinggi. Hanya 3 petani (5%) yang mengakses informasi lewat media cetak selain  dari sesama petani atau tokoh masyarakat setempat.

Kompetensi Petani

Kompetensi Teknis

Sebanyak 4 orang (6,7%) dengan kompetensi teknis rendah, 21 orang  (35%)  sedang, dan 35 orang (58,3%) dengan kompetensi teknis tinggi. Kompetensi teknis petani diperoleh secara empirik ditambah pengetahuan yang diperoleh dari diklat dan saling belajar antar sesama petani dalam kelompok tani hutan.

Kompetensi Konseptual

Sebanyak 2 orang (3,3%) dengan kompetensi konseptual rendah, 19 orang  (31,7%) sedang, dan 39 orang (65%) tinggi. Kompetensi konseptual berkaitan dengan luas kepemilikan lahan.  Sebagai suatu usaha yang sudah dilakukan secara turun-temurun, hutan rakyat merupakan salah satu asset yang sangat berharga bagi para petani. Selain sebagai sumber penghasilan, hutan rakyat juga merupakan salah satu hasil kreasi budaya masyarakat setempat dalam memanfaatkan sumber daya alam yang dimilikinya (Suharjito, 2000).

Kompetensi Relasional

Sebanyak 8 orang (13,3%) dengan kompetensi relasional rendah, 34 orang  (56,7%) sedang, dan 18 orang (30%) tinggi. Kompetensi relasional terkait dengan pola hubungan kekerabatan yang masih dipegang oleh petani.

Partisipasi Petani

Partisipasi dalam Perencanaan

Sebanyak 10 responden (16,7%)  dengan kategori rendah, 26 responden  (43,3%) sedang, dan 34 responden (56,7%) tinggi. Partisipasi dalam  perencanaan mencakup keterlibatan responden dalam  budidaya tanaman.

Partisipasi dalam Pelaksanaan

Sebanyak 6 responden (10%) berada pada kategori rendah, 33 responden (55%) sedang, dan 21 responden (35%) tinggi. Indikator pelaksanaan dipengaruhi oleh pengetahuan responden dan tingkat penguasaan lahan. Banyaknya curahan tenaga kerja dipengaruhi oleh: 1)  penguasaan lahan, 2) posisi hutan rakyat dalam struktur pendapatan  responden, 3) tingkat mobilitas responden, dan 4) pekerjaan responden.

Partisipasi dalam Pemanfaatan

Sebanyak 10 responden (16,7%) dengan kategori rendah, 26 responden            (43,3%) sedang dan 24 responden (40%) tinggi. Indikator pemanfaatan berkaitan dengan aspek: 1) umur tanaman, 2) keragaman jenis tanaman, dan 3) pola pemanenan. Tanaman keras (kayu) memiliki nilai ekonomis cukup tinggi dan merupakan investasi petani. Kebutuhan kayu bakar responden diperoleh dari hutan rakyat. Hal ini secara langsung mengurangi pengeluaran rumah tangga responden.

Kesejahteraan Petani

Kesejahteraan Sosial

Indikator kesejahteraan sosial ditunjukkan oleh tata guna lahan yang mantap, batas-batas kepemilikan lahan yang jelas, dan hubungan antar petani dalam kerjasama sosial yang kuat. Sebanyak 4 responden (6,7%) berada pada kategori rendah, 30 responden (50%)  sedang, dan 26 responden  (43,3%) dengan kategori tinggi.

Kesejahteraan Ekonomi

Sebanyak 23 responden (38,3%) dengan kategori rendah, 21 responden (35%) dengan kategori sedang, dan 16 responden (26,7%) dengan kategori tinggi. Tinggi rendahnya tingkat kesejahteraan ekonomi responden dipengaruhi oleh: 1) luas kepemilikan lahan, 2) variasi jenis tanaman, 3) harga jual komoditas. Rata-rata pendapatan responden dari usaha tani hutan rakyat sebesar Rp 10.792.325,03. Sebanyak 40 responden (66,7%) dengan kategori rendah, 11 responden (18,3%) dengan kategori sedang, dan 9 orang (15%) dengan kategori tinggi.

Hubungan Faktor Internal  dengan Partisipasi Petani

Tabel 1. Korelasi Faktor Internal dengan Partisipasi Petani

Faktor Internal (X1) Partisipasi Petani (Y1)
Partisipasi dalam Perencanaan Partisipasi dalam Pelaksanaan Partisipasi dalam Pemanfaatan Total
Umur -0,165 -0,250 0,019 -0,285*
a. Pendididikan formalb.Pendidikan nonformal 0,0600,422** -0,0390,123 -0,1550,173 -0,0350,326*
Jumlah tanggungan keluarga 0,235 -0,059 -0,004 0,056
Luas Lahan 0,365** 0,130 0,203 0,312*
Pengalaman berusaha tani 0,033 -0,220 0,011 -0,195
Motivasi 0,387** 0,020 0,402** 0,237
Total Faktor Internal 0,060 -0,283 0,041 -0,225

Keterangan tabel :

n = 60 orang; p = peluang kesalahan (galat)

** Berhubungan  sangat nyata pada α = 0,01

*   Berhubungan nyata pada α = 0,05

Hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan nyata antara faktor internal petani dengan partisipasi petani ditolak. Faktor internal petani berkorelasi tidak nyata dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat. Umur responden berkorelasi negatif dengan partisipasi petani.  Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tua umur responden akan semakin berkurang partisipasinya dalam pengelolaan hutan rakyat. Hal ini terkait dengan produktivitas kerja yang dihubungkan dengan usia produktif petani. Sub variabel pendidikan norformal berhubungan sangat nyata dengan kegiatan perencanaan. Pengetahuan petani dalam teknis silvikultur selama ini diperoleh secara empirik. Pengetahuan tersebut berperan dalam mendinamisasi kegiatan produktif petani dalam memanfaatkan sumberdaya lahan. Pengetahuan petani bertambah sejalan dengan terbangunnya jalinan interaksi antar sesama petani, petani dengan kelompok, serta pelatihan teknis yang diikutinya.

Luas lahan berhubungan sangat nyata dengan partisipasi dalam perencanaan. Keterbatasan lahan yang dimiliki mendorong petani untuk menaman berbagai jenis tanaman dalam satu luasan lahan. Motivasi petani berhubungan sangat nyata dengan perencanaan dan pemanfaatan. Motivasi terbesar petani dalam mengelola hutan rakyat adalah mendapatkan keuntungan ekonomi.

Hubungan Faktor Eksternal  dengan Partisipasi Petani

Tabel 2. Korelasi Faktor Eksternal dengan Partisipasi Petani

Faktor Eksternal (X2) Partisipasi Petani (Y1)
Partisipasi dalam Perencanaan Partisipasi dalam Pelaksanaan Partisipasi dalam Pemanfaatan Total
Penyuluhan Kehutanan 0,221 0,334** 0,084 0,286*
Kelompok Tani Hutan 0,291* 0,380** 0,311* 0,486**
Akses Informasi 0,170 0,138 0,318* 0,271*
Total Faktor Eksternal 0,311* 0,398** 0,190 0,455**

Keterangan tabel :

n = 60 orang; p = peluang kesalahan (galat)

** Berhubungan sangat nyata pada α = 0,01

*   Berhubungan nyata pada α = 0,05

Hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan nyata antara faktor eksternal petani dengan partisipasi petani diterima Faktor eksternal petani berkorelasi sangat nyata dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat. Sub variabel penyuluhan kehutanan berkorelasi sangat nyata dengan partisipasi dalam pelaksanaan pengelolaan hutan rakyat. Pertemuan kelompok sekaligus dirangkaikan dengan penyuluhan. Materi penyuluhan berkaitan dengan usaha tani hutan rakyat dan berbagai persoalan yang dihadapi petani dalam pengelolaan hutan rakyat. Kegiatan penyuluhan dilaksanakan oleh penyuluh swadaya (pengurus kelompok) sehingga terbangun interaksi yang kuat dan kontinyu antara penyuluh dan petani. Interaksi yang intensif antara penyuluh dan petani akan berdampak pada meningkatnya efektivitas penyuluhan. Menurut Slamet (1987) bahwa penyuluhan pertanian yang efektif ialah yang dapat menimbulkan perubahan informasi pada diri individu-individu petani, atau memberi informasi baru kepada mereka, memperbaiki kemampuannya, memberi kemampuan-kemampuan dan kebiasaan-kebiasaan baru, dan menumbuhkan perasaan-perasaan tertentu terhadap sesuatu yang dikehendaki.

Pengadopsian inovasi dalam sistem sosial akan terjadi jika terjalin suatu interaksi antar anggota sistem sosial tersebut dalam sebuah proses komunikasi yang dinamis. Rogers dan Shoemaker (1987) menyebutkan bahwa pengoperan ide-ide lebih sering terjadi antar sumber dan penerima yang sepadan atau homofili. Homofili adalah suatu tingkat di mana pasangan individu yang berinteraksi sepadan dalam perangkat tertentu, seperti kepercayaan, nilai-nilai, pendidikan, status sosial, dsb. Kedekatan secara sosial dan psikologis memungkinkan terjalinnya suatu interaksi yang intensif antar individu.

Kelompok tani hutan (KTH) berhubungan nyata dengan partisipasi dalam perencanaan  dan berhubungan sangat nyata dengan partisipasi dalam pelaksanaan dan partisipasi dalam pemanfaatan hasil. Semakin maju dan mandiri kelompok tani, maka semakin maju dan mandiri pula para petani dalam mengelola hutan rakyat. Kondisi ini akan berkorelasi dengan peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan petani dalam mengelola hutan rakyat. Melalui pendekatan kelompok akan terjalin kerjasama antara individu anggota kelompok dalam proses belajar, proses berproduksi, pengolahan hasil dan pemasaran hasil untuk peningkatan pendapatan dan kehidupan yang layak (Abbas 1995). Kelompok tani hutan berfungsi sebagai sumber informasi, tempat belajar dan unit produksi bagi petani.

Akses informasi berkorelasi nyata dengan partisipasi dalam kegiatan pemanfaatan. Akses informasi ini berhubungan dengan tingkat kemudahan petani dalam memperoleh berbagai informasi yang mendukung usaha tani hutan rakyat. Informasi yang berkaitan dengan teknis pengelolaan hutan rakyat, diperoleh petani melalui kelompok tani atau petugas PPLsetempat. Kemampuan petani mengakses informasi berdampak dalam meningkatkan posisi tawar petani dalam mata rantai usaha tani. Hardjanto (2000), mengatakan bahwa pihak yang berperan dalam sistem usaha hutan rakyat terutama dalam rantai usaha akan lebih solid jika pihak-pihak tersebut menguasai informasi (pasar) sehingga memiliki posisi tawar yang lebih kuat

Korelasi Kompetensi Petani dengan Partisipasi Petani

Tabel 3. Korelasi Faktor Kompetensi Petani dengan Partisipasi Petani

Faktor Kompetensi (X3) Partisipasi Petani (Y1)
Partisipasi dalam Perencanaan Partisipasi dalam Pelaksanaan Partisipasi dalam Pemanfaatan Total
Kompetensi Teknis 0,242 0,486** 0,117 0,434**
Kompetensi Konseptual -0,006 0,415** 0,217 0,268*
Kompetensi Relasional 0,284* 0,226 0,057 0,313*
Total Kompetensi 0,273* 0,477** 0,144 0,458**

Keterangan tabel :

n = 60 orang; p = peluang kesalahan (galat)

** Berhubungan  sangat nyata pada α = 0,01, *Berhubungan nyata pada α = 0,05

Hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan nyata antara faktor kompetensi petani dengan partisipasi petani diterima. Faktor kompetensi petani berkorelasi sangat nyata dengan partisipasi petani. Kompetensi teknis petani berkorelasi sangat nyata dengan  pelaksanaan pengelolaan hutan rakyat. Kompetensi teknis berkaitan dengan kemampuan petani berupa pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan hutan rakyat. Dengan kompetensi ini petani  mampu melakukan pengelolaan hutan rakyat secara lestari dan berkelanjutan.

Kompetensi konseptual petani berkorelasi sangat nyata dengan partisipasi dalam  pelaksanaan pengelolaan hutan rakyat. Terbukanya akses informasi mendorong para petani untuk berkreasi dalam mengembangkan hutan rakyat. Hal ini terkait dengan perhitungan-perhitungan rasional yang dimiliki para petani dengan melihat peluang pasar yang cukup terbuka.

Kompetensi relasional berhubungan nyata dengan partisipasi dalam perencanaan. Hutan rakyat sebagai model pengelolaan hutan yang lebih bersifat individual harus dikembangkan dengan jalan membangun jejaring kerja secara kolektif. Pola jejaring kerja yang dikembangkan oleh petani di lokasi penelitian adalah membangun hubungan kemitraan antara petani dengan petani, petani dengan kelompok tani, petani dengan lembaga penyedia modal dan petani dengan pedagang.

Korelasi Partisipasi Petani dengan Kesejahteraan Petani

Tabel 4. Korelasi Faktor Partisipasi Petani dengan Kesejahteraan Petani

Partisipasi Petani (Y1) Kesejahteraan Petani(Y2)
Kesejahteraan Sosial Kesejahteraan Ekonomi Total
Partisipasi dalam Perencanaan 0,237 0,366** 0,368**
Partisipasi dalam Pelaksanaan 0,394** 0,151 0,282*
Partisipasi dalam Pemanfaatan 0,253 0,337** 0,354**
Total Partisipasi 0,424** 0,409** 0,481**

Keterangan tabel :

n = 60 orang; p = peluang kesalahan (galat)

** Berhubungan  sangat nyata pada α = 0,01

*   Berhubungan nyata pada α = 0,05

Hipotesis yang menyatakan terdapat hubungan nyata antara partisipasi petani dengan kesejahteraan petani diterima. Partisipasi petani berkorelasi sangat nyata dengan kesejahteraan petani. Hal ini menunjukkan bahwa semakin  tinggi partisipasi petani, semakin tinggi pula tingkat kesejahteraan petani, terkait dengan meningkatnya manfaat sosial dan ekonomi yang diperoleh petani dari usaha tani hutan rakyat. Partisipasi petani terutama partisipasi dalam perencanaan berkorelasi sangat nyata dengan kesejahteraan ekonomi petani. Sub variabel perencanaan berkaitan dengan pemilihan jenis tanaman didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan praktis ekonomis. Sebagai satu sistem usaha tani dengan masa panen yang cukup lama, para petani mencoba mengembangkan dengan pola tumpangsari agar pemenuhan kebutuhan konsumsi keluarga dapat terpenuhi.

Rata-rata pendapatan petani dari semua jenis tanaman yang dikembangkan  sebesar Rp 10.792.325,03. Dari seluruh responden 8 orang (13,3%) hanya mengandalkan pemenuhan kebutuhan keluarga dari usaha tani hutan rakyat, 52 responden (86,7%) memiliki sumber pendapatan lain, baik dari usaha tani maupun non usaha tani. Pengusahaan hutan rakyat masih merupakan jenis usaha sambilan. Usaha hutan rakyat pada umumnya dilakukan oleh keluarga petani kecil biasanya subsisten yang merupakan ciri umum petani Indonesia (Darusman dan Hardjanto, 2006).

Berdasarkan indikator tingkat kemiskinan yang dikeluarkan BPS, maka petani hutan rakyat di Kecamatan Kertanegara berada di atas garis kemiskinan dengan rata-rata pendapatan Rp 8.993.604,00 per kapita per tahun atau Rp 749.467,00 per bulan dari usaha tani hutan rakyat.

Partisipasi dalam pelaksanaan berkorelasi sangat nyata dengan sub variabel kesejahteraan sosial. Berdasarkan indikator keluarga sejahtera yang dikeluarkan BKKBN, maka petani di Kecamatan Kertanegara termasuk dalam kategori keluarga sejahtera tahap III. Indikatornya adalah keluarga yang telah dapat memenuhi seluruh kebutuhannya baik yang bersifat dasar, sosial psikologis, maupun yang bersifat pengembangan serta mampu memberikan sumbangan yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat.

Indikator lain yang menunjukkan kesejahteraan sosial petani di lokasi penelitian adalah tidak adanya konflik antar petani menyangkut batas-batas lahan hutan rakyat. Batas-batas lahan yang jelas dan tata aturan serta norma hubungan yang sudah melembaga dalam kaitan dengan pengelolaan hutan rakyat merupakan modal sosial yang menjaga keharmonisan hubungan antar petani.

Partisipasi dalam pemanfaatan berkorelasi sangat nyata dengan kesejahteraan ekonomi petani. Salah satu faktor pembatas dalam pengelolaan hutan rakyat adalah kepemilikan lahan yang rata-rata sempit. Kepemilikan lahan yang sempit mendorong petani untuk mengelola lahan hutan rakyat lebih intensif dengan pemilihan jenis-jenis tanaman yang komersial dan memiliki nilai ekonomis tinggi. Penanaman berbagai jenis tanaman dengan daur yang beragam merupakan strategi untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga. Hasil dari hutan rakyat memiliki kontribusi bagi pemenuhan kebutuhan ekonomi petani. Untuk kebutuhan sehari-hari keluarga petani diperoleh dari hasil tanaman non kayu. Sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan jangka panjang, misalnya untuk investasi rumah tangga, biaya masuk sekolah biasanya diperoleh dari tanaman kayu yang ada di lahan hutan rakyat.

Kesimpulan

  1. Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat berada pada kategori sedang. Partisipasi dalam perencanaan berada pada kategori tinggi, partisipasi dalam pelaksanaan termasuk kategori sedang, dan partisipasi dalam pemanfaatan berada pada kategori sedang.
  2. Kompetensi teknis petani termasuk kategori tinggi, kompetensi konseptual berada pada kategori tinggi, dan kompetensi relasional berada pada kategori sedang.
  3. Faktor internal petani berkorelasi tidak nyata dengan partisipasi petani. Faktor eksternal dan kompetensi petani berkorelasi sangat nyata dengan partisipasi petani. Faktor partisipasi petani berkorelasi sangat nyata dengan kesejahteraan petani.
  4. Sub-sub variabel yang berhubungan dengan partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat di Kecamatan Kertanegara Kabupaten Purbalingga adalah :
    1. Partisipasi dalam perencanaan : pendidikan nonformal, luas lahan, motivasi, kelompok tani hutan, dan kompetensi relasional.
    2. Partisipasi dalam pelaksanaan : penyuluhan kehutanan, kelompok tani hutan, kompetensi teknis, kompetensi konseptual.
    3. Partisipasi dalam pemanfaatan : motivasi, penyuluhan kehutanan, kelompok tani hutan, akses informasi.

Saran

Partisipasi petani dalam pengelolaan hutan rakyat merupakan faktor yang sangat penting dalam rangka meningkatkan kesejahteraan petani dan menjaga kualitas lingkungan secara lestari dan berkelanjutan. Oleh karena itu, beberapa saran yang dapat dikemukakan adalah :

  1. Kegiatan pendampingan dan fasilitasi khususnya oleh penyuluh kehutanan (PPL) perlu dilakukan secara terprogram dan berkesinambungan untuk mewujudkan kemandirian petani dalam mengelola usaha tani hutan rakyat.
  2. Kelompok-kelompok tani hutan rakyat perlu diberdayakan secara fungsional dalam rangka mewujudkan kemandirian kelompok sehingga berfungsi sebagai determinan terbentuknya petani-petani yang produktif dan mandiri berbasis pembangunan kehutanan.
  3. Perlu dibangun jejaring kerja secara sinergis antara dinas teknis, penyuluh kehutanan, dan kelompok-kelompok tani hutan rakyat dalam rangka menumbuhkan penyuluh-penyuluh kehutanan swakarsa.

DAFTAR PUSTAKA

Abbas, S. 1995. 90 Tahun Penyuluhan Pertanian di Indonesia (1905-1995). Jakarta: Deptan.

[BKKBN] Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. 1997. Analisis Hasil Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) Provinsi Jawa Barat.

Darusman, D dan Hardjanto. 2006. Tinjauan Ekonomi Hutan Rakyat. Prosiding Seminar Hasil Penelitian Hasil Hutan. Jakarta : Departemen Kehutanan.

[Dephut] Departemen Kehutanan. 2006. Undang-Undang Republik Indonesia No. 41 Tahun 1999 Tentang  Kehutanan. Jakarta : Pusat Bina Penyuluhan Kehutanan.

Hardjanto. 2000. Pengusahaan Hutan Rakyat di Jawa. Didik Suharjito (penyunting) Hutan Rakyat di Jawa. Bogor: Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat (P2KM), Fahutan IPB.

Rogers dan Shoemaker. 1987. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. Abdillah Hanafi (penerjemah). Surabaya: Usaha Nasional.

Sevilla, CG dan Jesus A. Ochave, et. al. 1993. Pengantar Metode Penelitian. Tuwu A (Penerjemah). Jakarta : UI Press.

Slamet, M. 1987. Memantapkan Penyuluhan Pertanian di Indonesia. Prosiding Kongres Penyuluhan Pertanian 1987 di Subang – Jawa Barat

Suharjito, D. 2000. Hutan Rakyat di Jawa. dalam Didik Suharjito (penyunting) Hutan Rakyat di Jawa. Bogor: Program Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Masyarakat (P2KM), Fahutan IPB.

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: