Soegijono

ini mungkin berguna

Analisis Wilayah Perairan Teluk Pelabuhan Ratu Untuk Kawasan Budidaya Perikanan Sistem Keramba Jaring Apung

Posted by soegijono pada 35

Wilayah  pesisir  merupakan  kawasan  yang  sangat  strategis  untuk dikembangkannya  berbagai  kegiatan  usaha  budidaya  perikanan  seperti pertambakan, budidaya  rumput  laut, budidaya  tiram mutiara dan keramba  jaring apung.  Penelitian  mengenai  kesesuaian  lahan  untuk  pengembangan  budidaya perikanan sistem keramba jaring apung ini dilaksanakan selama 4 bulan (Agustus– November)  di Teluk Pelabuhan Ratu Kabupaten Sukabumi,  Jawa Barat. Luas areal  penelitian  adalah  sebesar  7.585,42  ha  atau  18  %  dari  total  keseluruhan wilayah  Teluk  Pelabuhan  Ratu  (±  42.000).  Aspek-aspek  yang  dikaji  dalam penelitian  ini meliputi  analisis  kesesuaian  lahan,  analisis  estimasi  beban  limbah kegiatan  keramba  jaring  apung,  analisis  estimasi  beban  limbah  kegiatan  non keramba  jaring  apung  dan  analisis  jarak  sebaran  limbah.  Adapun  tujuan dilakukannya penelitian ini adalah mendapatkan wilayah teluk yang sangat sesuai untuk  dikembangkannya  kegiatan  usaha  budidaya  perikanan  sistem  keramba jaring  apung  yang  sesuai  dengan  daya  dukung  perairan  teluk  berdasarkan parameter biofisik perairan. Metode  survey  lapangan  untuk mendapatkan  data  primer  dilakukan  dalam penelitian  ini. Pengumpulan  data  sekunder  pendukung  penelitian  didapat  dari berbagai  laporan  penelitian,  Badan  Lingkungan  Hidup  Kabupaten  Sukabumi, Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Kantor Kecamatan Kabupaten Sukabumi, Bakosurtanal  dan  Dishidros  AL.  Pemetaan  kawasan  yang  sangat  sesuai  untuk dikembangkannya budidaya perikanan sistem keramba jaring apung menggunakan Software ArcView 3.3 dengan data masukan berupa nilai parameter biofisik yang telah diberi  bobot dan  skor untuk  seluruh  stasiun pengamatan. Analisis  estimasi beban  limbah  kegiatan  keramba  jaring  apung,  analisis  estimasi  beban  limbah kegiatan  non  keramba  jaring  apung  dan  analisis  jarak  sebaran  limbah  dilakukan melalui studi literatur yang didasarkan pada data fisik oseanografi yang didapat. Hasil  analisis yang dilakukan dengan menggunakan Software ArcView  3.3 didapat  tiga kelas kesesuaian  lahan untuk budidaya  ikan dengan  sistem keramba jaring  apung.  Pada  kelas  ”Sangat  Sesuai”,  kawasannya mencakup  area  seluas  ± 7.501,91 ha atau sebesar 98,90 % dari total kawasan yang menjadi areal studi atau 17,86 % dari total perairan Teluk Pelabuhan Ratu (± 42.000 ha) yang terletak pada hampir semua kawasan pesisir di Kecamatan Pelabuhan Ratu, Kecamatan Cisolok dan Kecamatan Ciemas. Kelas  ”Sesuai” mencakup  area  seluas  ±  83,51  ha  atau sebesar 1,10% dari  luas kawasan yang menjadi areal studi atau 0,20 % dari  luas total  perairan Teluk  Pelabuhan Ratu  (±  42.000  ha)  yang  terletak  pada  sebagian kecil Kecamatan Pelabuhan Ratu dan Kecamatan Cisolok.

Berdasarkan  estimasi  beban  limbah  didapat  kisaran  jumlah  total  nitrogen yang dilepaskan keperairan sebesar 0,07 – 0,25  ton N/unit/6 bulan pemeliharaan dengan  ketentuan  ukuran  keramba  adalah  3  x  3  x  3 m3, padat  penebaran  yang dilakukan  sebanyak 20  ekor/m3 dan bobot  awal  ikan yang ditebar  adalah 100 g. Ditinjau  dari  aspek  kemampuan  flushing  perairan  dan  total  limbah  yang masuk didapat  produksi  optimal  yang mampu  diakomodasi  oleh  badan  perairan  Teluk Pelabuhan Ratu  tanpa terjadinya degradasi  lingkungan sebesar 9,18  ton/ha/siklus budidaya.  Sementara  itu,  berdasarkan  data  kecepatan  arus  didapat  bahwa  jarak pemisah antar unit keramba yang direkomendasikan agar  limbah yang dihasilkan setiap unit keramba tidak mempengaruhi unit keramba lainnya berkisar antara 91– 294 meter. Hasil  analisis  citra  yang  dilakukan  terlihat  bahwa  kegiatan-kegiatan  yang telah  ada  sebelumnya  seperti  kegiatan pariwisata,  penempatan  bagan  apung  dan kawasan yang cocok untuk pengembangan budidaya rumput laut secara berurutan memiliki luas sebesar 684,21 ha; 121,09 ha dan 613,81 ha. Dengan demikian total kawasan  yang telah  dimanfaatkan  untuk  kegiatan-kegiatan  tersebut  sebesar 1.419,11  ha  atau  sebesar  19  %  dari  area  yang  sangat  sesuai  untuk  kegiatan budidaya  ikan  sistem  keramba  jaring  apung. Berdasarkan  nilai  tersebut  di  dapat bahwa  kawasan  yang  dapat  dimanfaatkan  untuk  kegiatan  budidaya ikan  sistem keramba jaring apung di Teluk Pelabuhan Ratu adalah sebesar ± 6.082,80 ha atau 14,48 % dari total perairan Teluk Pelabuhan Ratu (± 42.000 ha)

Sorry, the comment form is closed at this time.

 
%d blogger menyukai ini: